Ziarah ke Museum Maulana di Konya, Taman Bunga Mawar Maulana Jalaluddin Rumi.

Gerimis kecil menjelang tengah hari menitik jatuh di jalanan berdebu kota Aksehir, tempat kami singgah untuk makan siang dan melaksanakan shalat jama’ qashar Dhuhur dan Asar. Meski tampak murung, suram dan tidak berseri, ada yang menarik dari kota ini, stiker dan patung sang sufi jenaka Nasrudddin Hoja (Nasreddin Hoca) dijumpai di banyak tempat, di pintu restoran, di jendela toko, dan di tepi jalan. Yang khas tentu saja patung Hoja di atas keledai dengan posisi duduk menghadap ke belakang. Setelah ditanyakan kepada Ali, pemandu wisata kami yang lancar berbahasa Indonesia, ternyata Aksehir adalah kota kelahiran Nasruddin Hoja. Meski melahirkan tohoh terkenal (entah fiktif atau nyata) kota ini bukanlah tujuan wisata, sehingga kami hanya sekedar singgah.

Setelah Aksehir, bis membawa kami melaju menuju Konya. Seperti halnya Aksehir, Konya juga nampak tidak berseri, wajah yang biasa tampak dari sebuah kota tua, berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Turki yang gemerlapan dengan bangunan modern. Konya merupakan kota wisata relji, sehingga selalu ramai oleh para peziarah. Konya adalah kota yang penduduknya paling relijius di Turki. Pada masa lampau kota ini merupakan bagian dari Kesultanan Seljuk (Persia-Turki), dan merupakan kota besar pusat ilmu, kota dimana Jalaluddin Rumi dibesarkan dan menghabiskan sebagian besar hidupnya.

Makam para murid sang sufi Rumi di antara rumpun bunga mawar

Tempat yang kami tuju adalah kompleks Museum Maulana, yang didalamnya terdapat makam Maulana Jalaluddin Rumi dan beberapa sufi lainnya. Kopleks ini disatu masa dikenal sebagai Taman Bunga Mawar Kesultanan Seljuk. Tempat dimana Maulana Jalaluddin Rumi dan murid-muridnya bertempat tinggal. Ketika tiba disana suasana sangat ramai dipenuhi para peziarah dari berbagai negara, suasana penuh sesak orang berdoa di makam sehingga kami tidak sempat masuk karena dibatasi waktu. Kami melihat-lihat area lain dari kompleks museum. Bangunan kompleks museum tampak terawat di area yang luas, dengan warna menara biru kehijauan. Ruang-ruang kecil berjajar dalam satu bangunan terpisah, memperlihatkan kegiatan para sufi mulai dari dapur tempat memasak, hingga ruang koleksi pustaka langka. Jika dibandingkan dengan lokasi yang kami lalui ketika memasuki Konya, kompleks museum ini tampak lebih berseri, cerah dan indah.

Gambaran kegiatan para maulawi

Jalaluddin Rumi berasal dari Persia. Beliau dilahirkan di Balkh (Afganistan sekarang) dan bertumbuh di Konya. Beliau hidup pada abad ke 13, pada masa Kesultanan Seljuk. Karya-karya prosa dan puisinya sebagian besar ditulis dalam Bahasa Persia, dan beberapa dalam Bahasa Turki, Arab, dan Yunani. Ajaran sufinya masih terus berlanjut hingga sekarang dan murid-muridnya yang disebut maulawi atau mevlavi tetap ramai, berdatangan dari berbagai negara.

Gambaran suasana dapur para maulawi

Sebagai penyair besar, ahli spiritual, intelektual, ahli agama, Maulana Rumi adalah tokoh besar dalam sejarah. Penulis Jerman, Annemarie Schimmel, mengatakan ‘Tidak ada tokoh mistik (ahli spiritual) yang mendapatkan ketenaran di dunia barat seperti halnya Maulana’. Kata-katanya bergema dalam kehidupan dan karya ahli-ahli spiritual lainnya. Puisi-pusi dan prosanya diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan menentramkan hati banyak orang. (imt)