Wisata Pulau Penyengat, Menyaksikan Peninggalan Sejarah Kesultanan Melayu dan Ziarah ke Makam Bapak Bahasa Indonesia

Sayang pematang sudah tergenang.
Padi di sawah bersusun susun.
Selamat datang di Tanjung Pinang.
Kota gurindam negeri pantun.

Demikianlah bunyi pantun yang tertulis pada papan yang dipaku  di bawah atap koridor dermaga ferry Sri Bintan Pura. Jika anda bepergian ke kota Tanjung Pinang dengan menggunakan ferry melalui Batam maka pantun tersebut mungkin akan terbaca, karena ketika melintasi dermaga hendak keluar dari pelabuhan, anda pasti akan melintasinya. Tanjung Pinang, ibukota propinsi Kepulauan Riau yang sarat budaya Melayu, memang dikenal sebagai kota gurindam, tapi dimanakah sebenarnya tanah kelahiran gurindam? Gurindam lahir di sebuah pulau yang terletak tidak jauh dari kota Tanjung Pinang di Pulau Bintan, namanya Pulau Penyengat.

Sebuah becak motor tampak sedang parkir di depan Masjid Kuning Telur

Penyengat, sebuah pulau yang tenang, dihuni sekira 1000 penduduk. Bahasa dan budaya Melayu mewarnai kehidupan sehari-hari. Untuk menuju kesana digunakan perahu kayu bermotor yang disebut pompong. Penyeberangan melalui selat cukup singkat, tidak lebih dari 15 menit dengan tarif yang sangat murah. Penumpang menunggu di dermaga yang letaknya berdampingan dengan dermaga Sri Bintan Pura. Pompong merupakan alat transportasi penting bagi para pekerja Pulau Penyengat yang mengantarkan mereka ke  Tanjung Pinang di pagi hari dan mengantar kembali saat usai jam kantor di petang hari.

Papan nama Bapak Bahasa Melayu-Indonesia di depan Kompleks Makam Para Raja

Warna kuning menyapa wisatawan begitu pompong mendekati daratan pulau. Warna kuning kerajaan yang melambangkan kesucian tampak jelas di situs-situs peninggalan masa silam. Warna kuning terlihat pada warna Masjid Sultan Riau yang menjadi ikon pulau. Masjid tua yang dipugar pada tahun 1832 masih tampak kokoh dan mempertahankan warna yang hanya boleh dipakai oleh kalangan kerajaan. Masjid Sultan Riau ini dikenal dengan nama populer yaitu Masjid Kuning Telur. Konon, menurut cerita turun temurun, masjid ini menggunakan putih telur sebagai perekat dalam campuran bahan bangunannya. Hm, berapa banyak telur yang diperlukan ya? Apakah produksi telur pada masa itu mencukupi? Di kompleks pemakaman, kain satin kuning mengkilat membungkus patok-patok batu nisan. Memberi tanda bahwa yang terbaring tenang di bawahnya adalah anggota keluarga Kesultanan Melayu-Riau. Berbeda dengan rakyat biasa, batu nisannya dibiarkan tanpa kain penutup.

Makam Raja Ali Haji diantara makam keluarga Kesultanan Melayu

Berabad lampau, Penyengat merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Melayu Riau. Jejak-jejaknya masih banyak dijumpai di seantero pulau dan menjadi tujuan wisata. Diantara situs bersejarah yaitu kompleks makam Raja Jaa’far, sebuah istana kantor (istana raja yang merangkap sebagai kantor) dari Raja Ali Marhum, sebuah benteng pertahanan untuk melawan kolonial Belanda yang dibangun di atas bukit pada abad 18, serta kompleks makam keluarga raja. Di antara yang dimakamkan di sana adalah Raja Hamidah atau Engku Putri dan Raja Ali Haji. Raja Hamidah adalah permaisuri Raja Mahmud Shah III, kepada siapa Pulau Penyengat diserahkan sebagai mas kawin. Raja Ali Haji adalah keluarga dekat yang merangkap sebagai pujangga istana.

Pelaminan pengantin seperti yang diperagakan pada Balai Adat Melayu

Ketenaran Raja Ali Haji yang berdarah Bugis-Melayu, kini melebihi para raja. Beliau adalah pujangga besar Melayu pada jamannya. Melalui mata penanya banyak tercipta karya sastra fenomenal. Keindahan bahasa yang dituangkan dalam karya sastranya, seperti dalam Gurindam Dua Belas, memperlihatkan tentang bagaimana menggunakan bahasa dengan tatanan bahasa yang benar dan tinggi. Minat, perhatian dan pengabdian yang besar pada Bahasa Melayu akhirnya melahirkan Bahasa Nasional Indonesia.

Gedung mesiu pada masa perlawanan terhadap kolonial Belanda

Masyarakat Indonesia sudah seharusnya berterima kasih kepada Raja Ali Haji yang telah berjasa melahirkan Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa pemersatu bagi seluruh rakyat Indonesia yang bhinneka tunggal ika. Papan nama bertuliskan huruf besar-besar atas namanya sebagai Pahlawan Nasional tegak kokoh di depan kompleks makam keluarga raja. Semoga beliau dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa ini, terutama dalam menjaga kelestarian Bahasa Indonesia yang mendapat serangan dari segala penjuru termasuk dari apa yang dikenal sebagai bahasa alay, bahasa gaul hingga bahasa campur aduk Indonesia-Inggris.

Meriam yang diletakkan di atas bukit menghadap ke pantai, siap menghalau musuh

Kehidupan masyarakat di pulau sangat bersahaja, apa adanya dan alami. Rumah-rumah bertiang di tepi pantai menjadi pemandangan biasa. Pepohonan rindang di tengah pulau, teriknya cuaca, dan hembusan angin laut menambah kesan alami. Tak ada kendaraan roda empat dapat melintas di jalanan pulau, hanya dapat dilalui bemor (becak motor), serta kendaraan bermotor roda dua atau sepeda. Wisatawan mancanegara seperti dari Singapura dan Malaysia yang berkunjung kemari umumnya beretnis Melayu. Pulau Penyengat yang sarat sejarah Melayu tempo dulu serta budaya Melayu, dan keislaman yang melekat erat pada budaya kesultanan Melayu yang menjadikan pulau ini menarik bagi wisatawan.