Taman Nasional Tanjung Puting; Menikmati Eksotisme Hutan Tropika dan Tingkah Unik Orang Utan di Habitat Aslinya.

Pesawat yang saya tumpangi mendarat sempurna di kota Pangkalan Bun,  ibu kota Kabupaten Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah.  Segarnya udara pagi masih menemani geliat kehidupan di bandara yang tergolong kecil  dan sederhana ini.  Kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan kendaraan sewaan menuju Pelabuhan Kumai, tempat dimana perjalanan menikmati sensasi hutan tropis Taman Nasional Tanjung Puting dimulai.

Perjalanan kali ini memang sedikit berbeda. Maklum kali ini berbau sedikit agak liar. saya dan rombongan akan menikmati eksotisme hutan tropika basah Kalimantan tepatnya di Taman Nasional Tanjung Puting.  Keinginan saya untuk menyumbui taman nasional ini memang banyak ditertawakan orang dengan berbagai komen yang kurang enak di dengar telinga. Tapi sungguh pengalaman kali ini menghadirkan rasa yang berbeda. Dan lewat tulisan ini saya pun dengan percaya diri merekomendasikan bahwa tempat ini layak menjadi salah satu destinasi wisata terutama bagi rekan-rekan yang suka dengan alam dan petualangan.

Taman Nasional Tanjung Puting adalah tempat konservasi orang utan terbesar di dunia dengan populasi konon katanya hampir 30 – 40 ribu.  Di taman nasional ini pengunjung bisa menyaksikan tingkah laku orang hutan di habitatnya sendiri bukan di habitat  yang dibuat oleh manusia.  Terus terang, ternyata inilah daya tarik utama taman nasional ini. Maka tak heran banyak sekali turis asing yang datang ke sini.  Selama perjalanan 2 hari di taman nasional ini,  saya sangat jarang menemukan wisatawan lokal. Kebanyakan adalah wisatawan mancanegara. “Merasa asing di negeri sendiri“, itu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan situasi ini.

Hal menarik lain dari wisata menyusuri taman nasional ini adalah pengunjung bisa tinggal dan bermalam di sebuah kapal kayu sederhana. Penduduk lokal  setempat menyebutnya dengan klotok. Saya dan rombongan menghabisakan waktu  selama 3 hari dua malam  di atas sebuah klotok berukuran 3 x 12 m. Klotok ini terdiri dari 2 geledak. Geledak dasar digunakan oleh kapten, awak klotok, juru masak dan pemandu. Sedangkan geledak atas adalah geledak untuk kami para pengunjung. Fungsi geledak atas bisa berubah sesuai kebutuhan. Menjadi tempat bersantai, bercengkerama, tempat makan dan pada malam hari akan menjadi kamar  tidur. Pada siang hari klotok ini dibiarkan terbuka namun pada malam hari ditutup dengan layar seperti terpal tebal. Pada saat akan tidur, setiap orang mendapatkan satu kelambu. Klotok ini juga dilengkapi dengan kamar mandi yang airnya disaring dari air sungai. Sumber listrik juga tersedia dari mesin diesel klotok .

Suasana di atas klotok

Sebelum menyewa klotok ada baiknya memastikan bahwa klotok yang disewa ukurannya sesuai  dengan jumlah orangnya. Semakin besar klotok, biaya sewanya akan semakin mahal.  Klotok di pelabuhan kumai tersedia dalam berbagai ukuran. Ada perlu juga berdiskusi dengan guide, tempat mana saja yang akan dikunjungi, bagaimana itenerarinya dengan mempertimbangkan waktu yang tersedia. Intinya buat perjanjian yang detai dan jelas dengan guide agar dalam perjalanan nanti tidak ada yang merasa di rugikan.

Saya dan rombongan juga menyewa juru masak dan biasanya memang sudah include dengan sewa kapal. Dalam klotok ini ada freeze, jadi selama perjalanan bahan makanan tersedia dengan baik. Satu hal yang  mebuat trip saya kali ini  semakan fantastis adalah makanannya. Juru masak kami sepertinya sangat mengerti selera kami. Jadi setiap makanan yang dihidangkan, kami habiskan dengan sempurna tanpa tersisa sedikitpun.

Perjalanan di Tanjung Puting  ini benar-benar menghadirkan suasana  dan kenikmatan berbeda.  Mengeksplore taman nasioanal dengan menyelusuri sungai yang kiri dan kanannya adalah hutan dan semak belukar.  Ketenangan,  suasana damai dan semilir angin yang menerpa wajah-wajah kami yang duduk diklotok dengan kesibukan sendiri-sendiri adalah hal mahal yang tak pernah kami temukan kami sebelumnya.  Hanya terdengar suara gemircik air bercampur suara mesin klotok sekali-kali diikuti suara bekantan yang sedang meloncat dari satu pohon ke pohon lain dan nyanyian burung-burung kecil. Harmonisasi alam yang tak lagi ditemukan di pusat-pusat peradaban dan kehidupan manusia.. Suasana inilah yang dicari oleh jiwa-jiawa manusia yang telah lelah. Lelah menghadapi hiruk pikuk dunia yang seakan tak pernah habisnya. Yah saaatnya mengistirahtakan kalbu disini.

Mengarungi sungai di Taman Nasional Tanjung Puting

Dari Kumai, klotok  akan menunju Taman National Tanjung Puting dengan menyusuri sungai Sekonyer. Memasuki Sungai Sekonyer, di sebelah kanan kami (selatan) adalah hutan bagian dari taman nasional,  sedangkan di sebelah kiri  (utara) adalah zona hutan penyangga (buffer forest). Sungai Sekonyer menjadi pemisah antara keduanya. Menurut pemandu kami, hanya beberapa kilometer ke arah utara sudah dapat ditemukan monokultur perkebunan kelapa sawit yang luar biasa luasnya.

Pemberhentian pertama saya dan rombongan  adalah Camp Tanjung Harapan yang berjarak 15 kilometer dari muara Sungai Sekonyer. Di camp ini terdapat satu petak lahan yang ditanami tanaman-tanaman obat yang endemik di Pulau Kalimantan. Terdapat pula pusat informasi yang berisikan informasi-informasi mengenai tanaman endemik setempat dan juga tentang orang utan.  Kali ini kami  sedikit kurang beruntung, kedatangan kami di camp ini disambut dengan hujan yang sangat lebat.

Jalan menuju tempat makan (feeding) orang utan

Namun kami tetap memutuskan untuk masuk ke camp ini yaitu  menuju tempat feeding, tempat dimana biasanya orang utan berkumpul menikmati makanannya. Tempatnya berupa panggung. Pada jam-jam makan (feeding) yaitu pagi dan siang hari, para petugas akan meletakkan pisang sebagai makanan utama orang utan di panggung-pangung tersebut. Perlahan satu-persatu orang hutan datang menikmati makanannya. Para wisawan hanya diperbolehkan melihat pada jarak tertentu, demi keamanan tentunya. Walaupun hujan lebat, kami masih beruntung  bisa  menemukan orang utan dan menyaksikan bagaimana mereka menikmati makannya. Pengorbanan kami berhujan-hujan ria terbayarkan.

Orang Utan yang sedang menikmati makanannya

Camp lain yang kami kunjungi adalah Pondok Tanggui dan camp Leakey. Camp Leakey adalah camp utama, biasanya orang utan primadona yang bernama Tom muncul di sini.  Di camp ini  juga terdapat semacam pusat informasi rehabilitasi orang utan serta beberapa gedung pusat rehabilitasinya. Terdapat sebuah rumah yang berisi berbagai dokumentasi tentang keberadaan orang utan ditaman nasional ini.  Namun niat hati ingin bertemu Tom kali ini belum kesampaian. Tom hari ini tidak menampakkan diri di camp ini.

Orang utan yang kadang beraktrasi di depan pengunjung

Pada malam hari, kapal kami bersandari di  sekitar  daerah pintu Sungai Sekonyer. Di sini  kami menyaksikan dan menikmati aksi ribuan kunang-kunang bertebangan.  Cahaya kunang-kunang yang berterbangan dengan jumlah yang banyak seperti aktrasi lampu kedap-kedip.  Sungguh indah bukan?. Saya dan rombongan menikmati malam sambil  bermain di ujung geladak yang memang dibiarkan terbuka. Kami menyaksikan sepuasnya  cahaya kunang-kunang dan  juga menyaksikan langit hitam pekat  bertaburan ribuan bintang.  Sesekali terlihat seperti ada cahaya yang turun, kami menyebutnya bintang jatuh.  Sungguh romantis… Romantisme alam nan sederhana namun selalu di rindu dan di buru.

Salah satu Ekosistem Taman Nasional Tanjung Puting

Oh ya untuk dapat menikmati wisata ini dengan baik jangan lupa untuk membaca semua aturan yang ada di sini dan tentu juga harus melaksanakannya.  Wisatawan yang akan masuk ke taman nasional ini wajib di dampingi oleh guide.  Bicarakan apapun sedetail-detailnya dengan guide anda.   Jangan lupa membawa obat-obatan pribadi termasuk lotion anti nyamuk.  Di beberapa camp jumlah nyamuknya memang banyak. Untuk pakaian usahakan mengenakan pakaian tertutup dan menggunakan topi.

Selamat menikmati eksotisme hutan tropika basah dan tingkah pola unik  orang utan di habitat aslinya.