Taj Mahal Bukan Cuma Karya Agung Lambang Cinta Abadi, Tapi Juga Intrik dan Ironi

Taj Mahal (Crown of the Palace) yang megah, salah satu dari 7 keajaiban dunia, dibangun oleh Shah Jahan, kaisar Moghul ke-5 yang berkuasa di India pada waktu itu. Bangunan super megah ini, yang membuat para pengunjungnya histeris untuk segera memencet tombol kamera ketika memasuki kompleknya yang amat luas, dikenal sebagai lambang cinta abadi antara 2 insan. Tidak ada lambang cinta abadi di dunia ini yang menyamainya. Tetapi sesungguhnya Taj Mahal itu bukan cuma lambang cinta abadi, tetapi sekaligus mengingatkan kita atas segala intrik, ego, pengkhianatan dan ironi. Apapun sejarahnya, Taj Mahal sepanjang masa akan selalu dikenal sebagai lambang cinta abadi. Tapi tidak ada salahnya untuk tahu sejarah itu.

Pusara Shah Jahan dan Mumtaz Mahal

Intrik
Sang pembangun Taj Mahal adalah Shahab-ud-din Muhammad Khurram, dikenal dengan nama Shah Jahan (King of the World). Shah Jahan adalah kaisar ke-5 dari kekaisaran Moghul, yang sebetulnya bukanlah putra mahkota pewaris tahta. Dia hanyalah anak lelaki nomor 3 dari Mirza Nur-ud-din Beig Mohammad Khan Salim atau dikenal sebagai Jahangir (The Conquer of the World). Untuk menjadi kaisar, Shah Jahan harus berperang dengan kedua kakak lelakinya. Di zaman itu peperangan antar anak kaisar untuk merebut tahta memang selalu terjadi.

Khusrau Mirza, anak lelaki tertua Jahangir adalah putra mahkota yang seharusnya. Namun Khusrau semasa hidupnya juga melakukan pemberontakan kepada ayahnya sendiri, Jahangir, untuk merebut kekuasaaan. Akhirnya karena tidak mampu melawan dia dipenjarakan dalam keadaan cedera parah dan hampir buta. Di dalam penjara Khusrau mengalami kebutaan total dan akhirnya mati dibunuh atas perintah Shah Jahan.

Parviz Mirza, adalah anak lelaki nomor 2 Jahangir dari istri ke-3. Sesungguhnya Parviz adalah anak Jahangir yang paling berbakti. Dia tidak pernah memberontak kepada ayahnya. Bahkan di saat ayahnya sakit dialah satu-satunya anak lelaki yang selalu mendampingi. Ia membantu ayahnya memadamkan pemberontakan Shah Jahan bahkan sampai menyerah. Namun beruntung Shah Jahan diampuni. Namun Parviz dianggap tidak kompeten, selama membantu ayahnya memadamkan pemberontakan, pemegang komando adalah seorang panglima perang bernama Mahabat Khan. Karena dianggap tidak kompeten akhirnya Parviz lebih suka mabuk-mabukan yang akhirnya mati diracun atas perintah Shah Jahan yang kembali memberontak.

Masjid di Sisi Barat

Cinta Abadi
Di usianya yang ke-15 Shah Jahan bertunangan dengan Arjumand Banu Begum yang kala itu berusia 14 tahun. Mereka menikah setelah 5 tahun bertunangan. Arjumand Banu Begum kemudian dikenal sebagai Mumtaz Mahal (The Exalted one of The Palace – Yang Mulia dari Istana). Mumtaz Mahal bukanlah istri pertama dari Shah Jahan, tetapi adalah istri yang paling dicintai dan disayanginya. Ketika naik tahta, Mumtaz Mahal ditunjuk jadi permaisuri dan digelari Malika-i-Jahan (Queen of the World) dan Malika-uz-Zamani (Queen of the Age). Sebagai permaisuri kedudukan Mumtaz Mahal lebih tinggi dari istri-istri Shah Jahan lainnya.

Dengan kehidupan harmonis bersama Mumtaz Mahal, Shah Jahan dikaruniai 14 orang anak. Separoh diantaranya meninggal di waktu kecil. Dalam memerintah Shah Jahan seringkali meminta nasehat dari Mumtaz Mahal, tertutama tentang keindahan dan Mumtaz Mahal walau menurut sejarahnya tidak terlalu tertarik terhadap politik selalu mendukung Shah Jahan. Namun sayang, di usianya yang ke-37 setelah melahirkan anak ke-14 Mumtaz Mahal wafat karena pendarahan yang parah. Mumtaz meninggal ketika mendampingi Shah Jahan dalam peperangan di Burhanpur dan untuk sementara dimakamkan di sana.

Meninggalnya Mumtaz Mahal sangat memukul Shah Jahan, membuatnya berduka selama hampir setahun. Ketika dia muncul lagi ke publik, rambutnya memutih, punggungnya sedikit bongkok dan wajahnya kucel. Setelah itu Shah Jahan memerintahkan untuk Taj Mahal sebagai tempat peristirahatan terakhir sang permaisuri. Dipilihlah sebuah lokasi di tepian Sungai Yamuna di kota Agra. Shah Jahan merancang sendiri hampir seluruhnya dibantu para arsitek terbaik. Jasad Mumtaz yang sudah terkubur di Burhanpur dipindahkan ke sini.

Taj Mahal di bangun di lahan seluas 17 hektar untuk dengan masa pembangunan 22 tahun. Bangunan utamanya yang megah tersebut dibangun selama 11 tahun, selebihnya untuk membangun bagian lain. di bagian Barat dibangun sebuah Masjid dan di Bagian Timur sebuah guest house. Taman dan bangunan lain juga menghiasi komplek ini. Bangunan utama dibuat dari marmer putih dengan ukiran ayat-ayat al-Quran di dindingnya. Sungguh susah untuk menggambarkan keindahan Taj Mahal yang merupakan percampuran arsitektur Persia dan Moghul ini dengan kata-kata. Mungkin lebih baik datang sendiri untuk melihatnya. Menurut cerita, para arsitek yang ikut merancang dan membangun serta para pekerja utamanya sampai dipotong tangan mereka agar tidak ada lagi bangunan yang menyerupai keindahan Taj Mahal.

Guest House di Sisi Timur

Ironi
Bertahun-tahun berduka membuat Shah Jahan semakin menurun kesehatannya. Padahal Shah Jahan adalah salah satu kaisar yang paling berjasa dalam perkembangan arsitektur dan seni. Dia paling banyak meninggalkan warisan tentang arsitektur Moghul dalam hal konstruksi dan design. Bangunan-bangunan bersejarah peningggalannya bertebaran di mana-mana. Di masa inilah anak-anaknya saling berperang berebut kekuasaan. Fenomena perang antar pangeran tidak pernah berhenti, seakan menjadi kebiasaan.

Pemenang perebutan kekuasaan itu adalah Muhi-ud-Din Muhammad dikenal sebagai Aurangzeb (Ornament of the Throne). Aurangzeb adalah anak ke-6 dari Shah Jahan dan permaisuri tercintanya Mumtaz Mahal. Adalah Aurangzeb yang melakukan penahanan rumah atas Shah Jahan untuk merebut kekuasaaan dari ayahnya. Dari beberapa sumber, Shah Jahan yang renta itu dibunuh oleh Aurangzeb dengan meracuninya. Hingga meningalnya Shah Jahan hanya didampingi anak perempuan tertuanya. Aurangzeb bahkan tidak membuatkan makam khusus untuk ayahnya, melainkan menguburkannya di sebelah Mumtaz Mahal di Taj Mahal. Apakah ini karena ingin menyatukan ayah ibunya atau karena tidak menghormati ayahnya, sang Kaisar. Hanya Aurangzeb yang tahu.