Sumpu, Nagari 1000 Rumah Gadang yang Sesungguhnya

Belum banyak ulasan mengenai Sumpu, yang terletak di tepian danau Singkarak, lebih kurang 20 menit dari kota Padang Panjang. Jika kamu melakukan pencarian di Google, seringkali banyak kekeliruan mengenai nama Sumpu. Entah karena sengaja atau tidak membaca dengan baik ketika ke sana, para penulis menuliskannya sebagai Sumpur. Saya beruntung sekali, atas rekomendasi seorang teman, mendapat undangan dari pemilik sebuah rumah gadang di Sumpu untuk berkunjung ke sana. Kesan pertama saya adalah kagum atas dengan keindahan nagari ini, terutama dengan rumah gadangnya. Menurut cerita sang pemilik, dulunya di nagari ini terdapat lebih kurang 200 rumah gadang yang besar-besar. Sekarang hanya tinggal 50 buah saja. Sebagian besar dari rumah gadang tersebut sudah lapuk atau hancur karena ditinggal merantau oleh pemiliknya. Sebagian lain karena tidak lagi mampu dirawat oleh pemiliknya. Seperti kebanyakan orang minang lain, orang Sumpu juga banyak yang merantau. Jika kamu mengenal Andrinof Chaniago atau Triawan Munaf, mereka berasal dari daerah ini.

Rumah gadang milik keluarga Ibu Kamrita Akmal, yang mengundang saya, sudah berdiri sejak awal abad ke-20. Jadi usianya sudah lebih dari 100 tahun. Tidak seperti kebanyakan rumah gadang umumnya yang mempunyai rangkiang di depan, rumah gadang ini mempunyai gazebo tepat di hadapan rumah. Amat mengasyikkan bercengkerama di sana sambil bercerita dan menikmati secangkir kopi yang dihidangkan tuan rumah. Di sekeliling rumah juga ditumbuhi oleh pohon-pohon sawo Manila yang kebetulan saat ini sedang berbuah.

Dahulunya di lokasi ini terdapat 5 buah rumah gadang besar yang letaknya saling berdekatan. Dua di antaranya habis terbakar, sementara yang tersisa ada 3 rumah gadang besar. Salah satunya sekarang ini dalam tahap akhir renovasi. Upaya Ibu Kamrita Akmal dalam melestarikan rumah gadang ini dibantu sepenuhnya oleh sang suami, Bapak Alva Energi. Mereka bahkan mendapat bantuan dari donatur yang sangat mengagumi keindahan warisan budaya Minangkabau ini untuk merenovasi.

Menurut Pak Alva, jika mendaki sedikit di belakang perumahan mereka, maka akan terlihat pemandangan indah ke danau Singkarak. Bahkan dari ini akan terlihat juga baik matahari terbit dan matahari terbenam di sore hari karena letaknya yang unik. Jauh ke belakang areal persawahan terhampar luas. Sementara nun jauh di depan telihat danau Singkarak yang indah.

Selain ke rumah gadang keluarga Ibu Kamrita, saya yang datang bersama asisten dan seorang teman, juga diajak oleh bekeliling Nagari Sumpu oleh mereka. Memang saya belum sempat melihat semua yang ada di Nagari Sumpu ini, karena waktu yang terbatas di sore itu. Keelokan Sumpu ini tidak hanya dari rumah gadangnya saja, tetapi juga dari sejarahnya. Di nagari ini terdapat peninggalan berupa prasasti pertanda daerah ini sudah dihuni sejak ribuan tahun yang lalu. Nagari ini juga memiliki kuliner khas yaitu Pangek Ikan Sasau, yang kebetulan beberapa tahun yang lalu sempat saya nikmati ketika berkunjung ke daerah ombilin dan saya ulangi beberapa hari sebelumnya. Rasanya menggoyang lidah dan saat itu saya sama sekali tidak mengetahui kalau pangek ikan tersebut adalah kuliner asli Sumpu.

Ke depannya, mereka berencana untuk menerima kunjungan dari para wisatawan dari seluruh pelosok negeri. Sesungguhnya sebelum ini juga sudah lumayan banyak yang datang dan menginap di rumah gadang mereka. Jika digabungkan, 3 rumah gadang tersebut bisa menampung ratusan pengunjung untuk menginap. Kebetulan, pada tanggal 27/28 Pebruari 2016 ini mereka akan mengadakan acara “Naiak Rumah Gadang” untuk meresmikan rumah gadang yang baru direnovasi.

Secara keseluruhan, jika anak Nagari Sumpu bersepakat, akan sangat indah jika Nagari Sumpu ini dilestarikan menjadi Nagari Wisata karena memiliki segala potensi.