Senja di Pamukkale, Kemilau Rona Jingga di Atas Istana Kapas dan Kota Purba Hierapolis.

Warna putih terhampar luas menutupi tebing setinggi 300 meter. Air yang mengandung kalsium karbonat mengalir dari atas tebing membentuk fenomena alam yang spektakular berupa rangkaian tetesan berundak yang telah mengeras. Dari kejauhan tampak seperti lapisan salju atau seperti gumpalan kapas, atau seperti bangunan puri bertingkat. Panorama indah ini memberi nama Istana Kapas bagi kota Pamukkale di propinsi Denizli, Turki. Jangan bayangkan berjalan di salju yang empuk, berjalan di atas travertin yang keras terasa menusuk kaki.

Hamparan putih travertin dengan bentuk yang mengagumkan ditata dengan memanfaatkan teknologi. Air panas yang mengalir terus-menerus dapat membawa serta pengotor dan memperlambat mengerasnya jel travertin. Jika aliran air terhenti maka travertin akan mulai berubah warna menjadi abu-abu kehitaman. Untuk mencegah terjadinya hal itu dilakukan pengaturan aliran air. Saat aliran air berkurang, beberapa saluran akan ditutup untuk membiarkan air tetap mengalir ke teras-teras tertentu. Proses berputar silih berganti ke seluruh area agar warna putih tetap dapat dipertahankan dan diperoleh kecantikan alam yang diinginkan.

Hamparan Travertin Pamukkale

Di bagian atas lembah travertin terdapat puing-puing kota kuno Hierapolis yang dibangun di masa Yunani kuno pada abad 2 SM. Hierapolis berulang-kali alih tangan dari penguasa Yunani kuno, Romawi, Seljuk, Bizantium hingga sekarang berada dalam wilayah Turki. Kota ini pernah mengalami kehancuran akibat gempa bumi pada ratusan tahun yang lalu, hingga menjadi tak berpenduduk dan tertutup oleh travertin akibat aliran air yang tidak  terkontrol.

Bangunan Tua Kota Kuno Hierapolis

Sebagai kawasan wisata dan banyak dijumpai kolam-kolam air panas maka kawasan ini ramai dikunjungi pelancong. Pelancong dapat mandi atau berenang di kolam-kolam travertin. Hotel-hotel pernah dibangun di reruntuhan Hierapolis. Akibatnya, travertin mengalami kerusakan fisik dan perubahan warna. Tahun 1988, dengan dinyatakannya kawasan ini sebagai Warisan Dunia UNESCO, maka semua hotel diruntuhkan. Kegiatan bagi pelancong dibatasi, tidak diperkenankan mandi di kolam-kolam atau berjalan di teras-teras travertin, kecuali pada zona yang diperbolehkan, demi untuk melindungi travertin dari kerusakan.

Reruntuhan Kota Kuno Hierapolis

Apakah di Indonesia juga dijumpai travertin? Ternyata ada, meskipun saya belum pernah berkunjung kesana, yaitu di Desa Dolok Tinggi Raja, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Sayangnya kawasan travertin nan cantik ini belum dikelola dengan baik. Perjalanan ke lokasi memakan waktu sekitar 3 jam dari Medan melalui jalanan yang 10 km menjelang lokasi masih belum beraspal dan penuh bebatuan. Karena belum dikelola maka keindahan alam ini jarang terekspos dan kurang dikenal wisatawan. Jika telah dikelola dengan baik dan sarana transportasi menuju ke lokasi telah diperbaiki, pariwisata di Sumatera Utara tentu akan semakin semarak.