Selamat Tinggal Sunting, Selamat Datang Tengkuluk Talakung Ala Koto Gadang

Kamu tahu apa nama pakaian adat yang dikenakan oleh penganten pada foto di atas? Dari mana asal pakaian penganten yang terlihat mewah  dan megah itu?  Sebagian mungkin sudah tahu karena akhir-akhir ini menjadi trend busana penganten di berbagai kalangan. Bahkan juga dipakai di kalangan figur publik dan mereka bukan berasal dari daerah di mana pakaian tersebut berasal mula. Pakaian tersebut berasal dari salah satu daerah di Sumatera Barat.

Sudah pernah melihat pasangan dari Ranah Minang atau Sumatera Barat yang melangsungkan pernikahan? Umumnya mereka berpakaian adat lengkap dengan segala aksesorinya. Pakaian penganten di daerah Minangkabau banyak ragam dan coraknya. Hampir masing-masing daerah memiliki ciri khas sendiri, walau sepintas tampaknya sama. Di antara aksesori yang paling dominan adalah pemakian suntiang di kepala anak daro (mempelai wanita). Suntiang yang terbuat dari bahan metal ringan berwarna keemasan ini ternyata lumayan berat ketika harus bertengger di kepala mempelai wanita seharian. Besar, tinggi dan hiasan suntiang ini juga bervariasi.

Suntiang

Suntiang yang berat ini seringkali harus dipakai dalam beberapa kali kesempatan, karena banyak yang mengadakan perhelatan di 2 tempat. Pertama di rumah mempelai wanita, yang memang “wajib” diadakan, lalu kemudian di rumah mempelai pria. Mempelai wanita bisa sampai bertaburan keringat saking beratnya suntiang ini. Barangkali ini adalah saat paling menyiksa di hari bahagia. Memang tidak semua daerah mempelai wanitanya memakai sunting, salah satunya adalah daerah Koto Gadang, yang terletak dekat kota Bukittinggi.

Di daerah Koto Gadang, anak daro mengenakan baju kuruang dengan tutup kepala yang terbuat dari kain beludru berhias ornamen keemasan. Tutup kepala menyerupai selendang tersebut dinamakan Tikuluak Talakuang tanpa mengenakan suntiang. Aksesorinya sendiri berupa perhiasan kalung bertumpuk di dada mulai dari kalung cakiek, kalung dukuah, kalung keroncong hingga kalung dirham. Sementara gelang garobah ukuran besar dan gelang-gelang kecil seperti gelang rantai emas, gelang marjan, gelang pilin kepala bunting hingga gelang kareh emas, indah menghiasi pergelangan tangan. Lentiknya jari-jemari pun tak luput dari kilau keemasan dengan kehadiran barisan cincin mato berlian, cincin mato tujuh, cincin mato lima, cincin belah rotan dan cincin kankuang. Kehadiran aksesori-aksesori ini semakin menambah kemegahan busana adat pengantin Koto Gadang.

Kezia Warouw Pakai Tikuluak

Mempelai pria atau marapulai mengenakan baju gadang dari bahan beludru berwarna senada dengan baju kuruang yang dikenakan anak daro. Sedang bawahannya memakai celana panjang longgar dari bahan dan warna yang sama sebagai padanan. Kemudian kain balapak yang disampirkan pada pundak, disempurnakan dengan kain samping yang dililitkan di pinggang, serta sebilah keris yang disematkan. Hiasan penutup kepala yang dikenakan berupa saluak marapulai dari kain songket berwarna serta alas kaki semacam sandal terompah dari bahan kulit. Busana seperti ini biasanya dikenakan mempelai pria Koto Gadang untuk upacara akad nikah.

Prewed Laudya Chyntya Bella

Jadi apa pilihanmu untuk pakaian penganten? Oh ya, pakaian penganten dari Koto Gadang ini juga boleh lho dipakai oleh yang bukan orang Koto Gadang atau orang Minang. Sudah banyak orang dari luar yang memakainya.