Sambil Menyelam Minum Air, Berburu Kain Tenun Endek ke Bali

Saya beruntung memiliki pekerjaan sesuai passion walaupun sebenarnya selama bekerja tidak selalu mulus tapi ada naik turunnya. Kesukaan saya akan kain nusantara sejak kecil membuat saya memutuskan untuk berbisnis di bidang ini. Berburu kain untuk produksi selalu jadi alasan untuk memesan tiket kereta atau bis untuk sekedar melihat-lihat dan berbelanja kain. Kapan lagi berbelanja tanpa perasaan bersalah hehe.

Karena tiket pesawat ke Denpasar cukup terjangkau,  maka saya pun mencari info di mana saja saya bisa melihat-lihat kain tenun Endek khas Bali. Tanya sana sini dan yang paling terjangkau untuk saya adalah di Ubud dan Klungkung. Sebenarnya masih ada beberapa pasar tapi karena keterbatasan transport alias saya tidak bisa menyetir mobil ataupun mengendarai motor, terpaksa mengandalkan kendaraan umum padahal angkot di Bali itu tidak terlalu banyak.

Kotak Anyaman di Pasar Seni Semarapura

Karena keisengan pun, saya memutuskan untuk naik kereta ekonomi dari stasiun Kiara Condong, Bandung sampai ke Banyuwangi (Bandung-Yogyakarta-Banyuwangi), menginap semalam di Banyuwangi dan melanjutkan dengan ferry, bis dan angkot sampai ke Ubud. Begitu sampai Ubud, badan saya sukses pegal linu. Beruntung tidak jauh dari tempat saya turun dari angkot, saya langsung menemukan guest house.

Hijaunya Tegalalang

Setelah melepas lelah, besoknya saya berjalan-jalan di sekitaran Ubud dan masuk ke pasar tentunya. Seperti biasa, saya si banci pasar sangat kegirangan begitu memasuki pasar Ubud. Beragam makanan, bunga untuk persembahan, kain warna warni, baju dan cinderamata dijual. Tapi karena masih capek setelah perjalanan panjang, saya memutuskan untuk melihat lihat saja dan terus berjalan. Saya kemudian berjalan di sekitar jalan raya Ubud sambil melihat-lihat toko di sekitar. Lalu saya melewati satu toko, dari luar toko itu tampak tidak menarik, berpintu kayu dan berdebu. Nenek Bombom pemilik toko sedang duduk santai di tangga depan tokonya. Entah kenapa mungkin karena melihat si nenek yang murah senyum, saya pun masuk ke dalam tokonya. Nenek Bombom pun dengan semangat menunjukkan kainnya kepada saya, tidak banyak memang stoknya tapi harganya cukup terjangkau sekitar 140.000 untuk sepotong tenun Endek asli Bali.

Yang buat saya senang, selain mendapatkan kain, beliau senang sekali bercerita terutama tentang keluarganya. Si nenek yang mungkin umurnya sekitar 70 tahun menyebutkan kalau anak-anaknya sudah mandiri semua dan dia menjalankan toko ini hanya demi dapur ngebul, tidak ingin menjadi beban untuk anaknya. Selama menginap di Ubud, tiap hari saya mampir ke toko nenek Bombom, kadang sekedar untuk menyapa nenek atau pun membeli titipan teman.

Puas melihat-lihat di Ubud saya pun berkunjung ke Klungkung yang berada di Bali Timur. Tadinya saya cuma tahu kalau di sana ada pasar seni. Ternyata Klungkung sarat dengan sejarah. Tahun 1908 terjadi perang puputan sebagai puncak perlawanan raja dan rakyat Klungkung terhadap Belanda. Di sekitaran pasar ada beberapa objek wisata yang bisa dikunjungi yaitu taman wisata Kerta Gosa dan taman Gili serta monumen Puputan. Objek wisata Kerta Gosa ini merupakan barometer objek wisata di sini dengan daya tarik utama arsitektur bangunan khas Bali abad ke 17 yang terlihat jelas pad ataman Gili Bale Kambang. Dengan tiket masuk seharga 12.000 kita bisa menikmati bangunan khas Bali dan kolamnya. Dibuka dari pukul 08.00-17.00. Di dalam Kerta Gosa terdapat museum Semarajaya. Di sini kita bisa melihat benda-benda prasejarah dan senjata yang digunakan saat perang Puputan serta foto-foto raja Klungkung.

Pasar Seni Semarapura

Tinggal menyeberang jalan setelah menikmati Kerta Gosa, kita bisa mengunjungi monument Puputan Klungkung. Monumen dengan tinggi 28 meter ini diresmikan pada tahun 1992. Setelah puas berjalan-jalan saya pun langsung berjalan menuju pasar seni kota Semarapura. Pasar ini berada di pusat kota, sebelah timur Kerta Gosa. Pasar ini cukup terkenal di kalangan pecinta tenun Endek dan kain songket Bali. Karena saya datang di hari kerja, pasarnya cukup sepi. Kain Endek dijual dari 200.000-500.000 tergantung tingkat kerumitan proses pembuatannya, sedangkan untuk songket pun bervariasi dari ratusan ribu sampai jutaan. Saya hanya membeli tenun Endek yang motifnya tidak saya temukan saat berada di Ubud.

Puri Klungkung pun layak dikunjungi,puri agung Semarapura ini merupakan istana raja Klungkung saat ini. Peninggalan bangunan pada jaman kerajaan dahulu sudah tidak ada karena hancur akibat perang puputan melawan kolonial Belanda. Bagi pecinta lukisan tradisional, maka desa Kamasan wajib masuk dalam daftar kunjungan. Di desa ini terdapat komunitas warga yang menekuni seni lukis tradisional khususnya lukisan wayang. Selain desa Kamasan, juga ada museum Lukis I Nyoman Gunarsa, salah satu seniman lukis kelahiran Klungkung.

Menikmati Sunset di Kuta

Puas melihat-lihat dan berbelanja beberapa potong kain saya pun memutuskan untuk kembali ke Ubud, takut ditinggal oleh angkot terakhir menuju Gianyar. Dari Gianyar saya masih harus menyambung angkot ke Ubud. Repot memang tapi dengan cara ini saya bisa menikmati sebagian kecil daerah di Bali walau tidak masuk ke objek wisatanya dan sambil bercengkrama dengan supir ataupun pedagang kain. Saat berhenti di Gianyar, karena waktu masih cukup, saya pun memutuskan untuk melihat-lihat pasar. Lumayan, bisa mendapat 2 potong sarung tenun yang berbeda dan harganya pun murah. Pasar Gianyar lumayan menarik, sayangnya saya terburu-buru. Semoga lain kali saya punya waktu lebih banyak untuk berkunjung ke sana dan berbelanja kain tentunya.