Pariangan, Benarkah Desa Terindah di Dunia? Kamu Harus Datang Sendiri Melihatnya

Nama salah satu desa terindah di dunia itu Pariangan, terletak di Kabupaten Tanah Datar. Diperlukan waktu kira-kira 2 jam perjalanan dari Bandara Internasional Minangkabau untuk menuju ke sana. Apakah desa ini benar-benar indah? Pertanyaan ini tentunya akan Kamu ajukan begitu membaca tulisan ini ataupun publikasi lain soal Pariangan. Karena indah itu relatif untuk setiap orang, maka untuk membuktikannya Kamu harus mengunjungi desa ini. Jika tidak, maka hanya cerita yang akan Kamu dengar.

Untuk kesekian kalinya aku berkunjung ke salah satu desa terindah di dunia, yang akhir-akhir ini kembali dibicarakan di mana-mana. Terakhir kali aku ke sana sekitar 2 bulan yang lalu. Saat itu aku berpendapat bahwa sentra Desa Pariangan jauh dari indah karena sampah bertebaran di mana-mana. Masalah ini sudah kusampaikan kepada salah seorang sahabat yang kebetulan berdinas di Pemda Tanah Datar dan dia berjanji untuk menyampaikan kepada pihak terkait. Memang beberapa waktu yang lalu aku sempat mendengar berita bahwa kepala daerah sudah berencana membersihkan kawasan ini.

Namun pada kedatanganku kali ini, aku masih kecewa dengan keadaan di sana, terutama masalah kebersihannya. Hampir di setiap publikasi tentang Pariangan, yang selalu menjadi foto utama adalah foto Mesjid Ishlah. Mesjid ini adalah salah satu mesjid tua yang ada di Minangkabau dan menjadi ikon buat desa Pariangan. Namun sangat disayangkan, di lokasi sekitar mesjid inilah yang kebersihannya tidak terjaga. Sampah masih bertebaran di mana-mana, jemuran bergelantungan di depan rumah-rumah. Kabel listrik dan telepon berseliweran tidak teratur. Sungguh bukan suatu pemandangan yang indah buatku.

Setelah kecewa dengan lokasi yang jadi ikon Desa Pariangan, aku lanjut ke daerah persawahan. Sejak keluar dari lokasi mesjid tua menuju ke persawahan yang terletak di perbukitan, kebersihan terjaga dengan baik. Dari sini keindahan Desa Pariangan mulai terasa. Dalam perjalanan kutemukan beberapa rumah gadang kuno yang terawat dengan baik. Aku juga berpapasan dengan penduduk desa yang ramah-ramah dan tidak segan membantu menunjukkan lokasi-lokasi terbaik untuk mengambil foto. Menurut mereka, keindahan desa ini akan lebih nyata di pagi hari jika cuaca cerah.

Selain dari mesjid dan rumah gadang kuno, di sini juga banyak objek pemandangan alam lain yang bisa dinikmati. Areal persawahan di perbukitan merupakan pemandangan yang jarang ditemukan di daerah lain. Sayang sekali karena waktu terbatas, aku tidak sempat mendatangi lokasi air terjun yang sebetulnya tidak terlalu jauh dari ujung desa. Melihat foto yang ada di spanduk, sepertinya air terjun itu cukup bagus. Mungkin di lain waktu aku bisa melihat air terjun tersebut.