One Day Trip ke Raja Ampat, Menyaksikan Keindahan Gugusan Terumbu Karang

Sedang berada di Sorong? Dengan keterbatasan waktu dan budget dana ingin menyaksikan keindahan terumbu karang  Raja Ampat yang terkenal indah, seperti yang dilihat di foto-foto yang beredar di majalah. Mengapa tidak?! Tersedia pilihan wisata satu hari  dengan biaya yang tidak menguras kantong tetapi dijamin memuaskan. Dan sepulangnya dari sana bisa berbagi pengalaman, cerita dan foto-foto ke teman dan kerabat. Duh, pasti senang kalau sudah bisa ke Raja Ampat, destinasi yang sedang ngehits saat ini.

Itulah yang kami lakukan saat berada di Sorong. Selagi di Sorong, ingin sekali kami menyeberang ke Raja Ampat. Dipikir-pikir kalau tidak nekat singgah sekarang, kapan lagi kami bisa kesana. Apabila telah kembali di kota asal, tentu perlu budget khusus yang tidak sedikit untuk bisa melihat keindahan alam Raja Ampat. Bisa dihitung berapa harga tiket pesawat. Serta, tidak mungkin pergi sendiri, minimal ada seorang lagi yang mendampingi untuk teman jalan. Sang temanpun tentunya harus menyediakan budget untuk kesana.

Kapal merapat di Bukit Piaynemo

Karena kerasnya keinginan untuk singgah kesana, saya cari info kesana kemari, ke sopir kendaraan, ke pemilik warung makan, buka-buka internet, ke siapa saja yang kira-kira bisa memberi info. Hampir putus asa, karena yg ditawarkan terasa lumayan di saku. Paket 3 hari dua malam harganya sekian, kalau carter kapal harga sekian. Waduh waktunya terlalu lama dan biayanya betul-betul tidak bersahabat di  kantong. Kuberserah saja, kalau rezeki sampai juga kesana, begitu pikirku. Akhirnya, datang juga tawaran untuk One Day Trip Raja Ampat, spot yang dilihat cukup mewakili, ke Bukit Piaynemo, Telaga Bintang, Telaga Manta, Homestay Piaynemo untuk makan siang, Arborek, Pasir Timbul dan Yenbuba. Paket tersebut sudah termasuk makanan ringan, air minum, makan siang, peralatan snorkeling dan pin (semacam tarif masuk) Raja Ampat. “Wah menarik nih, ini kesempatan yang tidak boleh dilewatkan”, pikirku. Akhirnya kami pun ikut mendaftar untuk ikut trip.

Saat hari keberangkatan, hujan turun sedari subuh, padahal dijadwalkan kapal berangkat jam 7.00 pagi. Niat kami tidak surut, gerimis pagi tidak menghalangi langkah kami. Dengan mencarter angkot kami diantar ke Pelabuhan Usaha Mina, tempat kapal cepat kami bertolak. Keadaan masih sepi, tidak ada pihak agen wisata yang menyambut. Hati bertanya-tanya, ini jadi nggak sih berangkatnya. Ada beberapa orang berkumpul, kami pikir mereka juga akan ke Raja Ampat. Ternyata betul mereka juga akan kesana tapi mereka tidak berangkat bersama kami.

Mendaki undak-undak kayu menuju puncak Bukit Piaynemo

Akhirnya kami ditelpon juga oleh pihak agen, pendamping kami ke Raja Ampat. “Masih menunggu kapal”, begitu katanya, dan kami diminta berkumpul mendekat ke pantai, mendekati kumpulan kapal yang sedang bersandar. Menjelang pukul 8.00 kapal yang ditunggu-tunggu baru tiba. Sisa-sisa gerimis masih jatuh dari langit, hujan belum sepenuhnya reda. Petugas mulai sibuk memasukkan semua perbekalan ke kapal, bahan bakar, makanan kecil, dan dus air mineral, serta tumpukan nasi kotak untuk makan siang kami. Setelah itu penumpang satu persatu mulai naik ke kapal.

Setelah menunggu beberapa saat kapal belum juga bergerak, ternyata masih ada penumpang yang belum datang dan kami masih harus menunggu. Jengkel juga rasanya hati ini, karena tidak berangkat sesuai jadwal. Menjelang pukul 9.00 baru lengkap semua penumpang sudah duduk di bangku yng disusun berhadapan di sisi kiri dan kanan kapal. Semua berjumlah 18 orang. Kapal mulai menghidupkan mesin dan bergerak meninggalkan pelabuhan melewati kapal-kapal lain.

Jadi, begini ya, kita dapat langsung ke Raja Ampat dari Cengkareng tanpa harus menginap terlebih dahulu di Sorong. Dengan mengambil penerbangan pesawat malam dari Cengkareng akan tiba di bandara Domine Eduard Osok pagi hari dan bisa langsung gabung dengan trip. Atau kalau ingin ke Waisai bisa ikut kapal ferry regular, pukul 9.00 pagi.

Gugusan terumbu karang di sekitar Bukit Bintang

Selama kurang lebih 4 jam, kami berada di lautan naik turun menerjang ombak. Di dalam kapal yang tidak bisa dikatakan luas udara terasa gerah. Percikan-percikan air laut mengenai tubuh, terasa asin dan membuat lengket. Mau ambil foto juga susah karena kapal berlayar sangat kencang. Kapal melaju terguncang-terguncang, membuat sebagian penumpang merasa pusing dan mual. Petugas membagikan cemilan kue molen sebagai pengganjal perut, yang berminat silahkan ambil. Dari pagi gerimis, menjelang tengah hari cuaca beranjak cerah.

Ketika kapal mengurangi kecepatan, aku tahu bahwa kami sudah mendekati tujuan. Gugusan terumbu karang mulai terlihat, cantik. Kapal kami berlayar di antaranya, hingga tiba di Bukit Piaynemo. Ada sebuah dermaga kecil di bukit tersebut dan banyak kapal-kapal di sekitarnya. Itu adalah kapal-kapal yang mengantar wisatawan sama seperti kami. Di tepi bukit ada jajaran beberapa warung kecil dibangun di atas papan diatas air, kalau ingin sekedar mampir membeli air kelapa muda. Kapal kami merapat di dermaga kecil ini dan satu persatu penumpang turun ke bukit karang.

Telaga Bintang dilihat dari puncak Bukit Bintang

Di Bukit Piaynemo ini kami harus mendaki undak-undak dari kayu yang dibangun di antara bebatuan gamping yang tajam. Cukup melelahkan mendaki undak-undak ini untuk menuju ke puncak bukit. Beberapa kali terpaksa berhenti untuk mengistirahatkan kaki yang terasa berat, terutama ketika mendekati puncak. Teman seperjalanan menyemangati, “Ayo sebentar lagi sudah hampir sampai”. Kupaksakan mengangkat kaki, kalau terlalu lama istirahat akan semakin terasa berat melangkah. Sesampai di puncak, pemandangan memang luar biasa, seperti yang difoto. “Nah spot ini yang kucari” ucapku dalam hati. Tak perlu kuceritakan lebih lanjut, yang jelas saya sibuk berpose. Turun dari bukit, kami kembali melewati undak-undak.

Kapal kembali berlayar menuju Telaga Bintang. Sama seperti di Piaynemo, kami juga berlabuh di sebuah bukit karang, dan kami juga harus mendaki bukit. Kali ini belum disediakan undak-undak, sehingga kami naik bukit melewati bebatuan karang yang tajam. Harus sangat hati-hati, lumayan serem sih. Saya berpegangan kuat di batang-batang pohon yang tumbuh di bebatuan. Sesampai di atas bukit tampak sebuah telaga yang mempunyai 5 sudut, karena itu spot dinamakan Bukit Bintang atau Telaga Bintang. Pemandangan semua menawan.

Menuruni Bukit Piaynemo

Perjalanan kami berlanjut menuju homestay Piaynemo yang tidak jauh dari sana untuk makan siang. Homestay ini terletak di tepi pantai, dibangun di atas laut. Air di bawahnya sangat jernih sehingga ikan-ikan yang berenang-renang kian kemari dapat dilihat. Ikan-ikan di spot wisata Raja Ampat tidak boleh diambil, karena sudah menjadi daerah konservasi, yang harus dipelihara kecantikannya untuk keperluan pariwisata. Para nelayan terpaksa mencari ikan ke tempat yang lebih jauh, ke laut yang lebih dalam. Kasihan juga ya tangkapan mereka berkurang. Dengan maraknya pariwisata, semoga mereka mendapatkan tambahan penghasilan selain dari menangkap ikan.

Selepas makan siang kapal kembali melaju. Karena lasan waktu yang terbatas tidak semua spot bisa kami kunjungi. Telaga Manta sudah jelas tidak dikunjungi. Menurut pendamping wisata, telaga tersebut mirip saja dengan Telaga Bintang, tetapi bentuknya mirip ikan pari manta. Pasir Timbul tidak bisa kami singgahi karena air laut sudah mulai naik sehingga gundukan pasir tersebut sudah tertutup air laut. Mengingat waktu yang terbatas kami cuma bisa mengejar satu spot lagi, sementara ada dua yang masih tersisa, pilihan antara Arborek dan Yenbuba. Kami memilih Yenbuba. Dan kesanalah kapal kami melaju.

Kampung Yenbuba, spot snorkeling

Yenbuba adalah sebuah kampung yang menjadi lokasi diving atau snorkeling. Ikan-ikan disini juga sudah dikonservasi, tidak boleh ditangkap, untuk mempertahankan kecantikan bawah air. Disini kami diberi waktu setengah jam untuk snorkeling. Karena saya tidak bawa pakaian ganti jadi cuma duduk-duduk saja di anjungan sibuk foto-foto. Banyak juga sih yang tidak terjun ke air, jadi ada teman. Teman-teman yang lain asyik lihat-lihat ikan di bawah air, saya cukup lihat dari atas saja, meskipun tentu tidak secantik kalau dilihat langsung dari bawah.

Pukul 15.00 sore kami semua diminta naik ke darat, bersiap-siap untuk kembali ke Sorong. Banyak yang belum merasa puas snorkeling. “Waktunya kurang lama”, kata mereka. Bersyukur, selama perjalanan pulang, cuaca cerah, ombak bagus. Kapal kami melaju lancar, tidak membuat pusing kepala seperti saat keberangkatan. Perjalanan kembali menuju Sorong lebih cepat daripada saat pergi, hanya 3 jam saja. Pukul 18.00 kapal kami telah merapat kembali di Pelabuhan Usaha Mina. Langit Sorong pada pukul 18.00 masih tampak terang benderang belum temaram, karena senja memerah menjelang pukul 18.30.