Novi Sad Bukanlah Novi yang Bersedih, Ini Adalah Kota Budaya di Serbia yang Susah Untuk Dilupakan

I can smell the espresso before we’re inside. My mouth waters as the scents of pasta and powdered parmesan cheese on the pizza. OMG!! I am addicted to pasta and cheese.

Jam menunjukkan waktunya untuk mengisi perut yang sudah mulai kerocongan dan kami memutuskan untuk memilih salah satu restoran pasta di sekitar Centrum Novi Sad. Beberapa bulan hidup di Eropa, perut sudah mulai terbiasa untuk makan sekedar hanya roti atau pasta meskipun kalau di Indonesia jika belum makan nasi rasanya gak nendang (baca: gak kenyang). Sekitar 3 jam kami berbincang dan menikmati makan siang, kami memulai kami di Novi Sad. Tempat yang kami kunjungi adalah Centrum (pusat kota). Cuaca sangat cerah, dan langit Novi Sad kala itu bersih dan bersinar. Udara di awal musim semi disertai dengan tiupan angin sangat cocok dinikmati dengan senyuman matahari yang terik dan menghangatkan.

Novi Sad adalah kota administratif dari provinsi otonomi Vojvodina (bagian utara Serbia) dan merupakan kota terbesar kedua di Serbia setelah Belgrade.  Hal yang paling menarik dari Novi Sad adalah hidup di kota ini yang lamban dan bebas dari stres tidak seperti sebagian besar kota di Eropa yang hidup dengan segala sesuatu dengan cepat. Penduduk yang sangat ramah dan terbuka dengan wisatawan. Kota ini memiliki populasi sekitar 250.000 penduduk dan terletak di bagian selatan Dataran Pannonia, di tepi Sungai Danube dan Kanal Danube-Tisa-Danube.

Pusat kota Novi Sad

Kota ini didirikan pada tahun 1694, ketika pedagang Serbia membentuk sebuah koloni di tepi sungai Danube di seberang benteng Petrovaradin, sebuah pos militer strategis Habsburg. Pada abad ke-18 dan 19, kota ini menjadi pusat perdagangan dan manufaktur yang penting, serta merupakan pusat kebudayaan Serbia pada masa itu, sehingga kota ini mendapatkan julukan “Athena di Serbia”. Jika membandingkan dengan banyak tujuan wisata lain di Eropa, Novi Sad terkenal dengan penduduknya yang sangat toleransi terhadap multinasional, multikultural dan multi-konfesional di mana mereka memandang semua perbedaan sebagai keuntungan.

Di bagian pusat kota terdapat Trg Slobode (Freedom Square), dimana kami bisa melihat Gradska Kuća, Hotel Vojvodina, dan Gereja Katolik “The name of Mary”. Gradska Kuća atau yang sering kita kenal sebagai Balai kota ini merupakan bangunan bergaya khas Neo-Renaissance ini dibangun pada tahun 1895 oleh arsitek György Molnár dibantu oleh pematung Julija Anika dan pelukis Pavel Ruzicka. Bangunan ini didirikan pada saat walikota Novi Sad adalah seorang pengacara terkenal yang bernama Stevan Popović.

Gradska Kuća

Di sebelah kanan Gradska Kuća, terletak bangunan tua yang bersejarah yaitu Hotel Vojvodina. Hotel ini dibangun pertama kali pada tahun 1886 dengan nama Hotel Rozsa, namun sekitar tahun 1918 hotel tersebut berganti nama menjadi Vojvodina yang merupakan hotel terbaik pada zaman itu. Hingga sekarang hotel tersebut masih digunakan untuk menginap para wisatawan dan masih terlihat kokoh.

Di Depan Hotel Vojvodina yang Cantik

Lain halnya dengan Gereja yang terletak berhadapan dengan Gradska Kuća. “The Name of Mary Church” menyita pandangan saya sesaat karena gereja ini sangat berbeda bentuknya dengan gereja yang saya jumpai di Beograd sebelumnya. Gereja yang ada di Beograd sebagian besar berbentuk seperti kubah masjid adalah gereja untuk umat Kristen Ortodox, namun Mary Church adalah gereja untuk Kristen Katolik yang bentuknya mirip seperti gereja Katedral yang ada di Jakarta (Depan Masjid Istiqlal).

Gereja Mary awalnya adalah sebuah gereja katolik Romawi Kuno yang kemudian rusak selama Revolusi tahun 1848. Kemudian gereja ini tidak dipulihkan dengan benar, sehingga umat Katolik di Novi Sad memutuskan untuk membangun ulang gereja tersebut seperti baru. Akhirnya, pengerjaan gereja ini selesai di akhir abad ke-19, yaitu sekitar tahun 1894 oleh seorang arsitek yang bernama Georg Molnar dan gereja ini merupakan gereja tertinggi di wilayah Bačka hingga saat ini.

Roman Catholic Mary Church

Sekitar 15 menit didalam gereja, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke taman yang terletak dekat dengan centrum yaitu Dunavski park. Sekedar menghirup udara segar serta melihat bunga-bunga yang mulai bermekaran menyambut musim semi di Novi Sad. Menikmati keteduhan bangku taman sambil memandangi anak-anak yang bermain dengan teman sebaya-nya, sesekali menyunggingkan senyum untuk beberapa keluarga kecil yang menghabiskan libur weekendnya bersama.

Dunavski Park adalah taman tertua dan paling indah di Novi Sad. Pohon pertama di taman ini ditanam pada abad ke-19. Di danau ada sebuah pulau kecil bernama Erzsébet. Di tengah danau kecil terdapat air mancur, karya pematung terpelajar Serbia Djordje Jovanovic. Taman ini lumayan luas, dan banyak penduduk sekitar yang menghabiskan waktu di sini. Banyak pohon rindang serta bunga yang warna-warni. Di bagian dekat dengan danau, saya menemukan sebuah spomenik Đure Jakšića yang pernah saya temukan juga di Skadarlija, Belgrade (sama persis). Georgije “Đura” Jakšić adalah seorang penulis puisi serta pelukis terkenal di Serbia. Beliau banyak membuat tulisan-tulisan yang dramatis, serta romantis.

Dunavski Park
Danau di tengah Dunavski Park
Spomenik Đure Jakšića

Setelah selesai mengeksplor semua bangunan bersejarah di Novi Sad, kami melanjutkan perjalanan menuju stasiun dan menunggu kereta yang menuju Belgrade.

Suatu Sore di Stasiun Novi Sad

Udara mulai dingin dan menusuk tulang ketika kami sedang menunggu kereta di peron. Hangat senja melambai mengucapkan selamat tinggal untuk Novi Sad dan berharap akan ada cerita dan kunjungan selanjutnya ke kota indah, Novi Sad.

NB: Sebagian foto diambil dari situs ini TM Travel