Menyusuri Kearifan Lokal Masyarakat Adat Kampung Naga Di Tengah Arus Globalisasi

Kampung Naga merupakan Kampung Adat yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Berbeda dengan kampung pada umumnya, Kampung Naga sendiri masih terbilang alami dan kental akan adat istiadat karena di jaga dan dirawat oleh masyarakatnya secara turun temurun. Seperti halnya perkampungan suku baduy yang berada di Banten, Kampung Naga masih memegang teguh adat istiadat leluhurnya. Suasana alam yang asri dan kondisi lingkungan yang masih terjaga, Kampung Naga sangat cocok dijadikan tempat untuk ngadem atau menghilangkan penat sejenak dari kesibukan di perkotaan yang melelahkan.

Lokasi menuju Kampung Adat Naga sangat mudah di akses karena lokasinya tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya-Garut dan menjangkaunya dengan menggunakan kendaraan darat. Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer. Anda bisa menjangkaunya dengan menggunakan sepeda motor maupun mobil pribadi dan jika rombongan dengan menggunakan bis. Setelah sampai di lokasi, parkirkan kendaraan Anda di tempat yang telah ditentukan tukang parkir, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kampung Naga yang berada di lembah yang subur dan dikelilingi oleh perbukitan.

Pemandangan dari atas terlihat gugusan rumah Kampung Naga yang terletak di lembah bukit.

Melanjutkan perjalanan menuju Kampung Naga hanya dapat diakses dengan berjalan kaki menuruni ratusan anak tangga sebab letak Kampung Naga berada di lembah bukit. Meskipun Kampung Adat Naga bisa dikunjungi siapapun secara gratis, namun perlu diketahui bahwa kedatangan Anda ke Kampung Naga hanya dianggap silaturahmi oleh masyarakat Kampung Naga.

Masyarakat Kampung Adat Naga menolak Kampung mereka di sebut tempat wisata karena dikhawatirkan ada pengunjung atau wisatawan yang merusak ekosistem alami Kampung Naga atau melanggar aturan adat yang akan menuai masalah. Hal ini yang membuat tidak adanya penarikan biaya untuk masuk ke kawasan Kampung Naga alias gratis.

Meskipun gratis, Anda tetap harus mentaati aturan yang ada dan menjaga tata krama karena masyarakat adat menjunjung tinggi etika. Alangkah baiknya jika Anda pertama kali berkunjung ke Kampung Naga, mintalah ditemani sanak keluarga atau teman yang sudah pernah berkunjung ke Kampung Naga atau menyewa pemandu wisata yang berada di pintu masuk Kampung Naga.

Pemandangan yang memanjakan mata ketika memasuki area Kampung Naga.

Memasuki area Kampung Naga, mata langsung dimanjakan dengan pesona pesawahan yang berundak-undak dan aliran air yang jernih dari sungai ciwulan di seberang perkampungan yang mata airnya berasal dari gunung cikuray, Garut. Pemandangan lainnya terlihat dari aktivitas masyarakat Kampung Naga sendiri. Para Ibu sedang duduk di teras rumah tampak sibuk dengan menganyam kerajinan bambu, ada juga yang sedang membersihkan padi, anak-anak bermain permainan tradisional di halaman, sedangkan para bapak bertani dan berladang di bukit.

Masyarakat Adat Kampung Naga sendiri sudah memeluk agama Islam, namun tradisi leluhur tetap dilestarikan oleh masyarakatnya. Sifat kekeluargaan dan keterbukaan masyarakat adat Kampung Naga membuat para pengunjung menjadi betah dan bahkan ada beberapa pengunjung yang sengaja bermalam di rumah penduduk, namun sebelumnya telah meminta izin dengan Kepala Adat atau Kuncen.

Ditemani rekan senior sehobi, Kang Robi, bersama menjelajahi sudut-sudut perkampungan.

Di Kampung Adat Naga tidak ada sarana listrik. Ini dikarenakan ketatnya aturan adat sehingga Kampung Naga benar-benar bersih dari pengaruh maupun benda-benda dari luar, kecuali beberapa perkara yang diperbolehkan masuk ke Kampung Naga selama tidak bertentangan dengan aturan adat. Oleh sebab itu, jika hendak mengunjungi atau bermalam di Kampung Naga, alangkah baiknya membawa power bank untuk persediaan baterai selama di Kampung Naga.

Saat saya berkunjung ke Kampung Naga beberapa hari yang lalu bersama teman saya, saya ditemui salah satu masyarakat Kampung Naga yang kebetulan sedang bagian jaga ronda. Namanya Mang Risman, orangnya begitu ramah dan langsung menemani kami yang sedang beristirahat duduk di teras balai.

Mang Risman, salah satu masyarakat Kampung Naga yang pada saat itu sedang bertugas ronda, menyambut kami dengan berkisah sedikit tentang Kampung Naga.

Di mulai dengan perkenalan dan mengutarakan maksud kedatangan kami ke Kampung Naga, Mang Risman menyambut kami dengan senyum sembari menyodorkan buku tamu untuk kami isi sekaligus memberikan pendapat kami mengenai Kampung Naga yang terjaga kealamiannya. Ketika di cek buku tamu, pengunjung atau wisatawan yang datang ke Kampung Naga tidak hanya dari masyarakat lokal atau luar kota, ternyata banyak wisatawan mancanegara yang telah berkunjung ke Kampung Naga ini, seperti Belanda, Jerman, Polandia, Kazakhstan, Australia, dan masih banyak lagi.

Rasa kagum semakin memuncak membuat saya bertanya-tanya tentang Kampung Naga kepada Mang Risman. Namun tidak semua pertanyaanku dijawab oleh Mang Risman, dikarenakan kedatangan kami pada hari sabtu, dan hari sabtu merupakan hari yang ditabukan oleh masyarakat Kampung Naga untuk membicarakan tentang sejarah Kampung Naga. Saya pun mengganti ke pertanyaan lain di luar yang ditabukan (dilarang) oleh aturan Adat.

Masyarakat Kampung Naga sangat mentaati aturan adat, karena apabila melanggar berarti sama saja dengan tidak menghormati leluhurnya. Hal ini yang ditabukan oleh masyarakat adat demi terhindar dari malapetaka. Meskipun masyarakat adat Kampung Naga telah memeluk agama Islam, hal mistis atau yang berbau supranatural masih melekat kental di kepercayaan masyarakat Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga sendiri sudah bisa berbahasa Indonesia, meskipun terkadang bercampur dengan bahasa sunda.

Pemandangan dari dekat gugusan rumah adat di Kampung Naga. Lokasi yang nyaman untuk berteduh dan ngadem.

Berbicara tentang pendidikan, anak-anak Kampung Naga banyak yang sudah bersekolah, namun harus berjalan kaki naik ke atas bukit karena sekolah berada di luar Kampung Naga, tepatnya di Desa Neglasari. Bahkan kabarnya ada pemuda keturunan masyarakat Kampung Naga yang sudah sarjana, hal ini yang membuat decak kagum saya bertambah, betapa pentingnya arti pendidikan bagi warga Kampung Naga.

Banyak masyarakat Kampung Naga yang sudah bermigrasi ke luar Kampung Naga dikarenakan berbagai alasan. Ada yang berdagang, ada yang menikah dengan orang luar Kampung Naga, bahkan sengaja pindah ke luar Kampung Naga dikarenakan rumah-rumah di Kampung Naga sudah penuh ditempati oleh masyarakat Kampung Naga maupun keturunannya. Jumlah rumah di kampung tersebut tidak boleh bertambah atau berkurang, hal ini telah menjadi ketentuan adat.

Jumlah rumah yang berada di Kampung Naga sebanyak 112 bangunan, dimana Masjid dan Balai Kampung menjadi bangunan utama. Jika ada rumah di Kampung Naga yang kosong, maka penduduk asli Kampung Naga yang tinggal di luar Kampung Naga akan kembali ke Kampung Naga untuk menempati rumah yang kosong.

Baju dan pangsi (ikat kepala Sunda) yang dikenakan Kang Adam merupakan buah tangan asli Kampung Naga. Cinderamata ini bisa didapat saat berkunjung ke Kampung Naga dengan membelinya langsung ke masyarakat Kampung Naga.

Perekonomian masyarakat Kampung Naga masih bergantung kepada hasil alam, seperti bertani, berladang, dan pengrajin. Hasil dari bertani, berladang, dan pengrajin (kerajinan) akan dijual ke pengunjung yang datang ke Kampung Naga dengan memajangnya di teras rumah dan ada juga yang di jual ke luar Kampung Naga.

Dalam setahun, masyarakat Kampung Naga hanya bertani dua kali, yaitu saat musim menanam padi dan memanen padi. Para Ibu di Kampung Naga mengolah makanan masih dengan cara tradisional, yaitu dengan menggunakan kayu bakar, yang dilakukan di dapur yang terletak di bagian belakang rumah. Ketika hendak mandi, mencuci baju dan piring, bahkan membuang hajat, mereka melakukannya di luar rumah karena kamar mandi atau toilet berada di luar rumah yang digunakan secara bersama-sama atau bergantian.

Masjid (yang terdapat bedug didepannya) sebagai salah satu bangunan utama yang berada di Kampung Naga yang difungsikan sebagai tempat ibadah.

Dalam satu tahun, masyarakat Kampung Naga menggelar upacara serentahun. Upacara adat digelar 4 kali dalam setahun, biasanya bertepatan dengan peringatan hari besar Islam seperti idul fitri, idul adha, muharaman, dan maulid. Bentuk pemerintahan di Kampung Naga terbagi menjadi tiga, yaitu Kuncen, Punduh, dan Lebe. Pemerintahan di Kampung Naga sendiri masih mengikuti tradisi leluhurnya.

Di tengah perkembangan zaman yang kian canggih, masyarakat adat Kampung Naga masih berpegang teguh dengan nilai-nilai tradisi leluhurnya. Meski terkesan kolot, namun perlu diacungi jempol kebudayaan asli daerah masih terjaga dan terawat dengan baik. Sebagai generasi penerus bangsa, perlu adanya pelestarian terhadap seni dan budaya daerah agar dapat terus eksis meski telah berbeda zaman. Disinilah letak jati diri bangsa bermula dari kearifan lokal berupa seni dan budaya yang menjadi identitas bangsa.

Salam Cinta Budaya dari Tasikmalaya.