Menyeberangi Selat Gibraltar Antara Eropa dan Afrika Ternyata Tidak Menakutkan Seperti yang Terbayang

Rasanya seperti mimpi, nama-nama tempat atau lokasi yang ada di buku pelajaran saat berada di bangku sekolah kemudian muncul setelah saya dewasa. Saya ingat pernah membaca kata Selat Gibraltar saat berada di bangku SD. Siapa sangka kelak berapa tahun kemudian saya akan menyeberangi selat tersebut.

Berawal dari keisengan belaka, mumpung sudah berada di benua Eropa kenapa tidak saya “melompat” ke benua Afrika. Awalnya dari Spanyol saya ingin terbang ke Kenya, pilihannya antara volunteering atau mendaki salah satu gunung di sana. Tapi faktor keamanan dan mahalnya tiket akhirnya menghalangi niat saya untuk ke sana. Belum waktunya pikir saya. Walau begitu, saya masih ingin menginjak benua Afrika. Maka Maroko menjadi pilihan karena dekat dengan Spanyol, dekat tapi membutuhkan waktu berjam-jam dengan bis dan kapal ferry.

Saat itu saya sedang berada di Santiago de Compostela, sebelah utara Spanyol. Pilihannya antara naik bis atau pesawat ke Malaga lalu melanjutkan dengan bis sampai ke Tarifa. Perjalanan bis dari Malaga ke Tarifa memakan waktu kurang lebih 2.5 jam (113 km) dengan harga tiket bervariasi antara 13 -17 Euro. Saya sempat menunggu di airport Malaga sampai jam 5 pagi di mana shuttle bus airport mulai beroperasi. Dengan shuttle bus saya menuju ke terminal Malaga. Sebenarnya pada saat itu saya tidak mempunyai info apa-apa mengenai Malaga, bagaimana bisnya, ada berapa terminal. Karena terlalu lelah setelah perjalanan panjang saya pun hanya bilang ke supir kalau saya mau ke terminal. Beruntung pagi itu ada beberapa orang yang bisa ditanya walaupun saya tidak bisa berbicara dengan bahasa Spanyol dan orang tersebut tidak paham bahasa Inggris.

Kota Tarifa di Spanyol

Walau tidak memiliki banyak info, biasanya saya sudah mencari info mengenai jadwal keberangkatan bis. Buat saya sebelum pergi ke tempat baru, info jadwal bis dan penginapanlah yang terpenting, apalagi jika bepergian seorang diri. Saya sempat khawatir kalau saya akan ketinggalan bis menuju Tarifa tapi ternyata walau saya sampai di sana mepet waktunya, saya masih sempat ke loket dan menunggu beberapa saat sebelum bis datang. Pada saat menunggu saya pun kembali takut, karena pergi seorang diri, tidak tahu mengenai Tangier dan wilayah lain di Maroko. Beruntung ada sepasang turis Amerika yang ternyata mau menyeberang dengan kapal ferry menuju Tangier dan melanjutkan ke Casablanca.

Walau kami sama-sama tidak berbahasa Spanyol dan buta mengenai Maroko, paling tidak saya ada teman senasib. Pasangan tersebut menemani saya dari mulai di bis sampai  membeli tiket kapal ferry. Saya sangat beruntung bertemu dengan mereka, karena sempat agak linglung saat turun dari bis di mana pada saat itu saya sempat melamun dan hampir tidak mendengarkan supir bis bahwa saya sudah sampai di tujuan. Sepanjang perjalanan dari Malaga ke Tarifa kami disuguhi pemandangan pantai.

Dari tempat perhentian bis kami masih harus berjalan kaki sekitar 10 menit untuk ke gedung tempat penjualan tiket. Di gedung itu juga terdapat imigrasi, di mana setelah melewati itu dan masuk ke kapal, kita keluar dari Spanyol. Sebelum saya memutuskan untuk menggunakan kapal ferry,saya sempat membaca kalau passport akan dicap di atas kapal, tanda kita memasuki Maroko. Di blog yang saya, si turis sempat terlewat untuk men-cap passportnya karena meja petugas kosong dan ia sempat bermasalah saat turun dari kapal. Jadi, pastikan untuk mencari petugas di atas kapal dan meminta cap imigrasi, tanpa cap itu kita tidak bisa keluar dari pelabuhan. Biasanya setelah kapal mulai bergerak, petugas tersebut akan siap di meja dan penumpang mengantri. Saya awalnya sempat bingung mengapa semua orang berdiri dan mengantri. Di pelabuhan akan ada seorang petugas yang akan mengecek passport kita.

Penyeberangan ini melewati selat Gibraltar (Jebel Tariq), selat yang memisahkan samudra Atlantik dengan Laut Tengah. Di selat inilah terdapat pertemuan antara 2 laut yang berbeda  yang terlihat jelas dari perbedaan warna laut seakan ada garis pemisah antara keduanya. Air laut samudra Atlantik berwarna biru cerah sedangkan air Laut tengah berwarna biru gelap. Selat yang memisahkan benua Eropa dan Afrika ini memiliki lokasi yang sangat strategis, dilewati kapal-kapal yang menuju ke atlantik atau mediterania.

Banyak perusahaan penyeberangan yang menawarkan jasanya, kita tinggal memilih sesuai waktu dan harganya, biasanya harganya tidak terlalu beda. Selain dari Tarifa, kita bisa menyeberang melalui Barcelona , Algeciras, Motril dan masih banyak pilihan dari beberapa kota tergantung kota mana di Maroko yang dituju. Untuk ke Maroko, pastikan kota apa yang ingin dituju karena ternyata di Tangier ada 2 pelabuhan dan yang satunya berada di tengah kota. Saat itu saya tidak mengetahui hal itu.

Pemandangan Tangier dari Pelabuhan

Sebelum ke Maroko, beberapa teman mengingatkan saya untuk berhati-hati. Bahkan karena malas, saya hampir membatalkan rencana untuk ke Maroko tapi akhirnya saya tetap melanjutkan perjalanan. Biasanya begitu sampai di satu tempat, saya mudah untuk bertemu sesama turis tapi ini tidak. Begitu kapal menepi, saya pun berpisah dengan pasangan dari Amerika itu. Mereka akan melanjutkan perjalanan dengan kereta api menuju Casablanca, saya tergoda untuk mengekor tapi tidak enak hati. Mata saya menyapu area kedatangan, tidak terlihat turis. Maka saya pun berdiri beberapa menit, berusaha tenang dan berencana melanjutkan perjalanan keluar dari pelabuhan untuk mencari hotel.

Saat itu saya melihat seorang turis sedang membuka-buka peta. Saya mendekatinya dan bertanya apakah ia baru sampai di Maroko juga. Entah apa rencananya, buat saya orang itu adalah malaikat kiriman Tuhan :D. Norbert namanya, seorang pensiunan dari Jerman yang beberapa kali mengunjungi Maroko. Entah apa rencananya hari itu dan kenapa dia bisa sampai di pelabuhan padahal tidak ada rencana untuk menyeberang. Norbert pun membantu saya mencari penginapan, membawa saya untuk mencoba kafe pastry, menukar uang, mengenalkan saya pada labirin di Tangier dan membantu saya untuk merencanakan perjalanan esok harinya. Awalnya saya sempat curiga dan ingin kabur hehe karena memikirkan hal yang tidak-tidak padahal sebenarnya Norbert berniat untuk membantu saya. Ia bahkan mengantar saya ke stasiun, menunjukkan mana loket pembelian tiket untuk besok hari dan memberi tips-tips penting. Kami pun menutup hari dengan menyantap Tajine, masakan khas Maroko.

Tangier, Maroko

Sejak awal perjalanan sampai saya meninggalkan Maroko, saya sangat beruntung bertemu orang-orang baik sepanjang perjalanan. Saya yang awalnya hampir membatalkan trip ke Maroko ini pun jatuh cinta dengan negara ini.

Featured image cortesy from: Wondering Mee