Menjelajah Sungai Sarang Buaya di Sangatta, Kutai Timur, Kal-Tim

Sangatta merupakan sebuah kota yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur, sebuah kota industri yang merupakan kota penghasil Batu Bara. Selain terkenal dengan Batu Baranya, kota ini cukup terkenal dengan keberadaan hewan buas bernama buaya, ya karena letak geografis kota ini cukup banyak sungai-sungai kecil dan rawa termasuk buaya air asin atau buaya muara.

Menjelajah Sungai Sangatta saya lakukan pada 23 Februari 2014 bersama perkumpulan fotografi PT Kaltim Prima Coal (KPC Click Club). Bermula pada acara seminar fotografi yang bertema ‘Human Interest’ dengan tamu seorang fotografer yang cukup terkenal, yaitu Pak Andi Wijaya. Hari pertama saya dan para peserta seminar belajar tentang Fotografi Human Interest. Keesokan harinya kami semua hunting dengan kapal mesin kayu hunting sekaligus menjelajahi Sungai Sangatta.

Setelah kami semua berkumpul di meeting point pukul 6 pagi, dan tim panitia membagikan baju pelampung ke setiap peserta hunting sebagai safety first untuk menjelajah dengan kapal. Penjelajahan dengan kapal dimulai. Kami melewati perkampungan pinggir sungai, mengamati kegiatan pagi orang-orang yang tinggal di pinggir sungai, kebetulan kapal kami berpapasan dengan kapal ketinting (sejenis kapal penyebrangan antar sisi sungai)

Kapal Ketinting

Sungai Sangatta ini cukup meliuk-liuk bentuknya. Sungai yang cukup besar sekaligus mengarah ke arah laut. Kenapa warnanya coklat, kata orang bisa jadi efek limbah pertambangan, ya emang ini kota industri juga sih. Banyak lumpur dan banyak buaya.

Nah, di sungai ini tempat tinggal buaya muara, buaya air asin yang katanya tergolong buaya terganas di dunia. Berdasarkan data track record buaya terbesar di dunia salah satunya pernah ditemukan di sungai ini yang menurut informasi ukuran buaya tersebut hampir 10 meter dan jenazah buaya tersebut diawetkan di sebuah museum di Kota Tenggarong.

Saya dan rombongan hunting santai aja naik kapal kecil melewati buaya berjemur, sedangkan di sisi seberang ada ibu-ibu santai mencuci. Ya, kehidupan tepi sungai yang menyatu dengan alam dan santai aja gitu yak ama buaya berjemur.

Arsitektur Rumah Suku Kutai yang tinggal di pinggir Sungai

Menjelajah sungai, dengan kondisi terik panas matahari yang cukup menyengat tak memudarkan semangat kami para penjelajah alam sembari memotret dari kapal. Melihat arsitektur rumah pinggir sungai dengan ciri khas bangunan kayu ulin dan rumah panggung.

Muka-muka kepanasan menyusuri sungai

Oiya, dalam penjelajahan ini, jujur saya cewek sendiri. Kawan-kawan hunting saya kebanyakan kaum bapak-bapak dan jarang ada pemuda. Malah disini saya tak dianggap cewek oleh mereka, ya mungkin karena kebanyakan cewek yang suka fotografi dan travelling seperti ini pasti tomboy dan cuek, itu penilaian mereka. Tapi memang benar.

Seorang Nelayan berangkat mencari ikan

Hampir dua jam kami berada di atas kapal. Isinya hutan bakau. Sesekali melihat buaya berjemur. Intinya banyakin Dzikir aja. Ya Allah, lindungi nyawa kami semua. Benar-benar penjelajahan alam.

Sempat ada kejadian menarik, pas saya ngobrol santai  dengan peserta hunting. Saya iseng bercanda ‘’mana nih buaya lagi‘’ eh pas lewat sebuah pohon bakau yang cukup besar dengan monyet-monyet berjingkrak di atasnya, dan dibawahnya doong… ada seekor buaya dengan ukuran hampir 3 meter an dibawah pohon mangap. Ya mungkin si buaya berharap ada monyet kepleset jatuh langsung ‘HAAP’ masuk mulut buaya.

 

Saat kapal penjelajah bergerak pelan melewati buaya mangap. Dan buaya tersebut sama sekali tak peduli dengan keberadaan manusia. Sang buaya sepertinya lebih setia dengan cita rasa daging monyet gitu, atau kalah massa sama tim kami.. bisa jadi. Tapi pengalaman ini cukup seru dan menegangkan.

Tim hunting sibuk menjepret buaya

Sesampainya di muara, sebuah pertemuan jalur air sungai dan air laut, rombongan kami mampir sebuah desa nelayan kecil terdiri dari 7 rumah nelayan dan ada pos penjagaan TNI air. Istirahat, makan-makan, dan jalan-jalan santai sambil mengamati kehidupan disini.

Kegiatan seorang Ibu menjemur ikan asin

Petani Ikan asin. Kehidupan orang-orang pesisir menarik dan sekaligus cukum memprihatinkan. Sudut kehidupan yang jauh dari keramaian kota. Dua jam lebih naik kapal kecil dan tidak ada jalur darat. Gak kebayang gimana anak berangkat sekolah, bolak balik. Jauh dari fasilitas kesehatan. Negeri ini indah, cuma butuh ditingkatkan lagi mutu pendidikan dan kesehatan di bagian pedalaman yang tak terjamah ini.

Interaksi Ibu-anak nelayan

Petualangan yang menarik bersama orang-orang yang menarik di tempat yang menarik. Yaaaa.. Pokoknya petualangan menyusuri sungai Sangatta yang sangat berkesan sampai kapanpun!!

SALAM EPIC!