Mengikuti Jejak Sang Buddha di Bodhgaya, Sebuah Perjalanan Spiritual Impian Masa Kecil yang Kesampaian

 

Saat itu saya baru saja sampai di stasiun Gaya setelah perjalanan kurang lebih 9 jam dengan kereta api. Kereta api selalu menjadi pilihan utama saya selama berpetualang di India. Selain murah, saya senang memperhatikan tingkah polah penduduk lokal, beraneka ragam pedagang yang hilir mudik menjajakan dagangannya sampai rombongan sirkus kecil pun dapat saya temukan di atas kereta api. “Chalo!” seruan supir auto rickshaw membuyarkan lamunan saya yang masih tidak percaya kalau kami sudah di Bodhgaya.

Bertumbuh di lingkungan keluarga Buddhist serta pelajaran sejarah di sekolah membuat saya sering mendengarkan cerita tentang Buddha Siddharta Gautama. Maka Bodhgaya pun masuk ke dalam bucket list. Alasannya sederhana : penasaran ingin melihat pohon Bodhi tempat sang Buddha mendapatkan pencerahan. Hawa peziarahan sangat kental terasa begitu rickshaw kami memasuki Bodhgaya. Sejauh mata memandang terlihat para peziarah berjalan sambil memutar prayer wheel atau biksu berdoa sambil membawa tasbih.

Sebelum Memasuki Kuil Utama

Kuil Mahabodhi tempat di mana Buddha Siddharta Gautama mencapai pencerahan sempurna ketika bermeditasi di bawah pohon Bodhi sekitar 2600 tahun yang lalu menjadi tujuan utama saya. Kuil yang termasuk dalam situs warisan dunia UNESCO merupakan tempat yang paling dihormati di antara semua tempat suci umat Buddha.

Tempat suci ini dipercaya ditemukan oleh raja Ashoka ketika mengunjungi Bodhgaya 280 tahun setelah Buddha Siddharta Gautama mencapai pencerahan. Pengamanan di kompleks kuil ini cukup ketat karena sebelumnya terjadi beberapa kali pengeboman sehingga sebelum memasuki kompleks pengunjung wajib menitipkan handphone dan tas (hanya tas berukuran kecil yang boleh dibawa masuk). Kita pun akan melewati petugas keamanan yang bertugas memeriksa barang bawaan.

Setelah melewati pintu masuk, terdapat teras yang mengelilingi area luar kuil Mahabodhi. Di teras ini para peziarah berjalan mengitari kuil utama searah jarum jam sebanyak 3 kali atau lebih sambil mengucapkan doa. Berjalan mengitari stupa, pohon Bodhi atau gambaran Buddha ini untuk mengingatkan umat Buddha agar selalu berpusat pada ajaran sang Buddha dalam hidupnya.

Clockwise atau searah jarum jam merupakan adaptasi dari sunwise yang berorientasi pada titik pergerakan matahari dari matahari terbit , titik tertinggi, matahari terbenam dan titik terendah di mana keempat ini diasosiasikan pada 4 peristiwa penting dalam hidup sang Buddha. Timur untuk kelahiran, selatan untuk pencerahan,barat untuk menggerakkan roda dharma dan sebelah utara untuk pembebasan. Karena itu seseorang berjalan mengitari stupa untuk memberi penghormatan dan secara simbolis mengikuti jejak sang Buddha.

Kompleks kuil Mahabodhi ini sangat luas, terdiri dari 7 lokasi yang menggambarkan perjalanan sang Buddha setelah mencapai pencerahan. Tujuh diantaranya adalah pohon Bodhi yang merupakan turunan dari pohon Bodhi asli di mana sang Buddha bermeditasi dan mendapat pencerahan. Rumor menyebutkan bahwa pohon Bodhi yang asli dirusak oleh istri raja Ashoka karena ia cemburu suaminya menghabiskan waktu di kuil ini tetapi beruntung turunan dari pohon aslinya sempat dibawa ke Sri Lanka oleh Sanghamitta, anak dari raja Ashoka dan kemudian tumbuh dan sebagian dibawa kembali ke Bodhgaya.

Selama minggu kedua setelah mencapai pencerahan, Buddha Siddharta Gautama duduk di tempat ini dan memandang ke pohon Bodhi. Tempat ini kemudian diberi nama stupa Animeshlocha. Di minggu ketiga sang Buddha berjalan bolak balik dari stupa Animeshlocha ke pohon Bodhi dan bunga teratai bermekaran di sepanjang jalan yang ia tempuh. Saat ini bunga teratai yang terbuat dari baru diletakkan di tempat ini untuk menandai jejak langkah sang Buddha. Jalan ini dikenal dengan nama Ratnachakrama. Di minggu keempat Buddha Sidharta Gautama berada di Ratnaghar Chaitya yang terletak di sebelah timur laut kuil. Buddha Siddharta Gautama menghabiskan waktu bermeditasi dan menjawab pertanyaan para brahma selama minggu kelima di bawah pohon Ajapala Nigrodh. Peristiwa ini kemudian dikenang dengan pembangunan sebuah pilar yang diberi nama sama dengan pohon Ajapala Nigrodh.

Tembok Meditasi

Di sebelah selatan kompleks kuil terdapat sebuah kolam teratai di mana sang Buddha berada selama minggu keenam. Di tengah-tengah kolam terdapat patung ular kobra. Legenda mengatakan bahwa saat bermeditasi terdapat badai dahsyat dan Buddha Siddharta Gautama berlindung pada dewa ular kobra yang berada di kolam tersebut.  Saat ini di samping kolam terdapat taman meditasi yang menghadap ke arah kuil Mahabodhi. Di sebelah tenggara kuil utama, terdapat pohon Rajyatana di mana sang Buddha berada selama minggu ketujuh.

Suasana damai dan sakral sangat terasa begitu kita melewati pagar yang mengelilingi kuil utama Mahabodhi. Di sekeliling pagar digantung bunga-bunga persembahan untuk sang Buddha. Perasaan sungkan sempat muncul, takut kehadiran saya mengganggu peziarah yang sedang berdoa atau bermeditasi. Kemudian saya pun duduk sambil mengamati beraneka ragam peziarah. Saya sangat menikmati suasana damai di sana dan kagum melihat para peziarah yang berdoa khusyuk seakan hanya ada sang Buddha dan dirinya. Ada yang mengitari kuil sambil membawa tasbih, prayer wheel bahkan mengitari sambil bersujud setiap beberapa langkah.

Peziarah berdoa dan bermeditasi di kuil utama

Pangeran Siddharta Gautama dilahirkan di Lumbini pada tahun 623 SM (waktu kelahiran dan kematiannya masih diperdebatkan oleh sejarawan sampai sekarang). Seorang pertapa Kondanna meramalkan bawah  sang pangeran kelak akan menjadi Buddha. Hal ini meresahkan ayahnya karena jika ramalan itu terbukti, kelak tidak ada yang mewarisi tahta kerajaan. Untuk mencegahnya menjadi seorang pertapa dan Buddha, para pertama menyarankan kepada raja agar pangeran Siddharta jangan melihat 4 macam hal yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan seorang pertapa. Pangeran pun dimanjakan dengan kenikmatan duniawi dan tidak mengenal akan penderitaan hingga suatu hari ia berjalan keluar istana dan melihat keempat hal tersebut.

Sang pangeran pun bersedih dan bertanya apa arti kehidupan jika pada akhirnya orang akan menderita sakit, berumur tua dan mati. Ia pun memutuskan untuk menjalani kehidupan suci, meninggalkan istana dan segala kemewahannya untuk mendapatkan jawabannya, membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati. Ia berguru kepada 2 orang pertapa tapi belum mendapatkan jawaban. Ia pun kemudian meninggalkan mereka dan melakukan pertapaan menyiksa diri di hutan Uruvela selama 6 tahun tetapi hasilnya sama saja. Sampai akhirnya ia mendengarkan nasihat seseorang kepada anaknya:

“Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, maka putuslah senar kecapi ini dan lenyaplah suaranya. Bila senar dikendorkan, suaranya semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu”

Ia memutuskan untuk menghentikan tapanya setelah mendengarkan nasihat itu. Badannya yang telah tinggal tulang dan lemah tidak memutuskan semangatnya untuk melanjutkan pertapaannya sampai mencapai pencerahan sempurna. Pertapa Siddharta pun melanjutkan pertapaannya di bawah pohon Bodhi setelah ia mendapatkan semangkuk susu dan rumput untuk dijadikan alas dari Sujata. Dalam pertapaannya, ia digoda oleh Mara, dewa ilusi. Mara melepaskan bala tentara iblisnya untuk mencegahnya mencapai pencerahan sempurna tapi dengan kemauan keras dan keyakinan teguh, Mara pun ditaklukkan. Pertapa Gautama mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha tepat saat bulan purnama Siddhi di bulan Waisak. Dari tubuhnya memancar 6 sinar Buddha yaitu biru (bhakti), kuning (kebijaksanaan dan pengetahuan), merah (kasih sayang dan belas kasih), putih (suci), jingga (semangat) dan campuran kelima sinar (prabhasvara).

Berdoa di depan pohon Bodhi

Di depan pohon Bodhi tampak sekumpulan umat Buddha sedang berdoa dipimpin oleh seorang biksu. Raja Ashoka membuat sebuah singgasana emas di bawah pohon Bodhi sebagai penghormatan kepada Buddha Siddharta Gautama. Singgasana ini kemudian di beri nama Vajrasana.

Beberapa peziarah sempat terlihat mengambil rontokan daun pohon Bodhi yang dipercaya sebagai pembawa keberuntungan dan suci. Penduduk lokal melihat ini sebagai sumber pendapatan mereka. Mereka menjual rontokan pohon Bodhi dengan harga 40.000-130.000 rupiah. Sayangnya terkadang mereka berbohong dan mengatakan bahwa daun yang mereka jual berasal dari pohon Bodhi yang ada di pelataran kuil.

Kuil Mahabodhi menarik peziarah dan wisatawan dari berbagai penjuru dunia setiap tahunnya untuk datang ke Bodhgaya. Mereka datang untuk berdoa, belajar, bermeditasi atau pun berwisata. Di sekitarnya kuil Mahabodhi kemudian dibangun kuil-kuil internasional seperti Bhutan, Thailand, Jepang, Vietnam, Tibet, Myanmar, China dan Sri Lanka. Penginapan pun menjamur untuk memenuhi kebutuhan peziarah, jangan takut tidak kedapatan kamar.

Kembali dari Bodhgaya saya pun merasa puas, bukan saya impian masa kecil saya terpenuhi tapi saya juga melihat contoh dari para peziarah yang berdoa atau bermeditasi dengan khusyuknya.