Menggapai Kaki-Kaki Langit di Puncak Gunung Rinjani, Pengalaman yang Tak Terlupakan

Tak ada kata yang mampu terucap ketika tapak kaki lemahku berhasil menginjak di puncak Gunung Rinjani (3726 mdpl).  Sujud, aku bersujud di segumpal tanahmu Ya Allah di ketinggian itu. Haru…bahagia, semua rasa berpadu. Jadi merinding  menginngat saat-saat menginjakkan kaki di puncak itu. Berbagai ekspresi bermunculan sebagai luapan rasa kemenangan.  Ada yang menangis, ada yang bertakbir,  ada yang bersujud dan ada  yang hanya diam  dalam kebingungan dan mungkin sambil bertanya benarkah ini puncak rinjani?

Dan hari itu aku boleh sedikit berbangga menjadi manusia yang pernah merasakan keindahan pencipta  di Gunung Rinjani ini, tidak semua orang bisa menikmatinya. Tak hanya dinikmati oleh orang-orang Indonesia, pendaki berbagai mancanegera pun  rela menepis jarak demi Gunung Rinjani.  Maka benar -benar sangat layak   Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR)  dinobatkan sebagai  dua puluh tempat terindah di Indonesia.

Desa Sembalun

Perjalanan menuju puncak Rinjani  dimulai dari Desa Sembalun Lawang. Sedangkan perjalanan turun ditempuh melalui jalur Desa Senaru. Pemilihan jalur yang sangat tepat menurut saya. Setiap jalur punya keindahan, cerita dan beban kesulitan tersendiri. Untuk bisa melihat keindahan yang beragam, memang ada baiknya memilih jalur berbeda untuk naik dan turun Gunung Rinjani ini.

Pendakian dimulai dari pos TNGR Desa Sembalun Lawang yang berada pada ketinggian 1.065 mdpl. Sepanjang jalur ini pendaki akan disuguhi pemandangan padang rumput nan luas.  Sesekali menyeberangi kali yang kering serta beberapa pohon cemara. Hamparan savana luar biasa indahnya. Padang ilalang pun sekali-kali menjadi objek bidikan mata dan kamera. Sejauh mata memandang hamparan rumput nan hijau memainkan retina mata pendaki. Kala matahari mulai menuju peraduannya, cahaya kadang tersibak dari rumputan, semakin menambah keindahan. Penat dan lelah awal pendakian pun terlenyapkan.

Padang Savanah

Satu hal yang paling terkenal dari  jalur pendakian Gunung Rinjani adalah bukit penyesalan dan bukit penyiksaan.  Bukit yang tak ada habis-habisnya.  Konon katanya pendaki akan melewati 9 bukit. Penamaan ini cukup logis menurut saya. Perjuangan menempuh plawangan terasa begitu berat. hamparan bukit yang tak ada habisnya harus kami lalui. Dari kejauhan kita seperti akan menemui hamparan daratan, tetapi setelah di dekati  malah kita dihadapkan pada tanjakan yang lebih menyiksa. Maka tak heran hamparan bukit di sini disebut bukit penyiksaaan dan bukit penyesalan.  “Perjuangan tak kenal kata henti’, kata-kata tepat mewakili usaha  melewati bukit penyesalan dan penyiksaan.

Pos pendakian akhir sembelum menuju puncak adalah plawangan sembalun (2.708 mdpl).. Plawangan sendiri merupakan sebuah dataran yang cukup luas untuk beberapa tenda yang terletak diatas gigiran punggungan yang menyatukan dengan pungungan menuju puncak serta berada pada ketinggian 2639m dpl. Dari sini terlihat jelas Segara anakan dan gunung baru. Disini terdapat sebuah toilet, dan juga sebuah sumber air yang berupa pancuran. Puncak Rinjani terlihat kelas dari sini. Kebanyakan para pendaki beristirahat dan ngecamp di sini, sebelum menuju puncak rinjani.Hati-hati terhadap monyet didaerah ini mereka sangat agresif untuk merebut makanan setiap pendaki yang lengah.

Dari Plawangan ini, kebanyakan para pendaki menuju puncak  dini hari sekitar jam 2 pagi dengan harapan bisa menikmati keindahan matahari terbit dititik tertinggi gunung ini.  Udara dingin mencekam sekali. Maka dibutuhkan persiapan fisik yang optimal serta pendukung lainnya seperti pakaian tebal, sarung tangan, serta makanan.  Suara Gemersik angin yang kecepatannnya  mulai bertambah terasa begitu kencang ditelinga. Tapi demi sunrise di puncak rinjani kami melawan dingin dan menepis segala keraguan di hati

Perjalanan dari Plawangan kepuncak, pendaki mulai dihadapkan pada tanjakan-tanjankan yang curam dan berdebu sampai pada batas gigiran puncak kemudian berbelok kekiri mengikuti gigiran puncak yang berpasir lembut membuat sulit untuk melangkah. yaps jalurnya seperti huruf S menyisiri tanah tipis. Melirik ke  kanan, terlihat  danau sagara anak dan ke kiri terlihat perkampugan.

Mendekati puncak tanjakan cukup terjal dan berpasir halus. Pemandangan di sekitar puncak kita dapat melihat sayup-sayup dari arah timur  gunung Tambora serta Kepulaan Sumbawa, sebelah barat terlihat Gunung Agung di Bali serta pelabuhan Lembar dan juga kearah bawahnya ada segara anakan beserta Gunung Baru Jari, sebelah utara kearah bawah kita bisa melihat kawah gunung Rinjani yang sudah tidak aktif lagi. Pemandangan yang sempurna..keindahan tersedia ke semua arah.

Titik Tertinggi Gunung Rinjani. Danau Sagara Anak dan anak gunung Rinjani Terlihat jelas

Di kesunyian inilah terasa kebesaran tuhan. Langit yang hitam pekat bertabur bintang dan bulan berkilauan di atas, seperti hendak naik tangga menuju langit, rasanya begitu dekat dan tinggal petik saja. Dibawah terlihat sinar kehidupan di Kota mataram dan warna laut yang bercahaya siraman sinar bulan. Dalam hati berdoa dan memuji Tuhan, betapa besar kuasaNYA. Puncak sudah terlihat diujung sana…dalam hitungan langkah semuanya kugapai..antara percaya dan tak percaya

Rasanya ingin menyerah, lama berjalan, dengkul serasa sudah lepas,  puncak belum juga terinjak..tapi begitu banyak orang menyemangitiku, “ayo…ayo..puncak sebentar lagi….”. Pukul 07.00 WITA  akupun sampai dipuncak itu…..dengan napas tersenggal-senggal aku bersujud dipuncak itu  bersama selembar bendera merah putih. Apa yang kita dapatkan memang akan sesuai dengan apa yang kita usahakan . untuk mencapai keindahan ini memang banyak hal yang harus dikorbankan, banyak perjuangan yang harus di lakukan tapi pengalaman ini tak akan terlupa. Kugapai kaki-kaki langit di puncak Rinjani.

suatu saat nanti jika Allah mengizinkan aku mempunyai keturunan maka di salah satu nama anakku akan kumasukkan kata-kata Rinjani

see u again Rinjani

Danau Sagara dan Anak Gunung Rinjani ( Gunung Barujari)