Mendaki Gunung Kerinci 3805 MDPL, Puncak Tertinggi di Pulau Sumatera

Sudah lama saya berkeinginan untuk mendaki gunung Kerinci. Entah mengapa, dari namanya saya sudah terdengar eksotis bagi saya. Saya beruntung bisa bertemu dengan sekelompok teman yang memperkenalkan hobi mendaki gunung ini. Walau bukan pendaki hardcore tapi saya mempunyai cita-cita untuk mendaki gunung tertinggi kedua dan ketiga di Indonesia, saya tidak bermimpi untuk mendaki yang pertama hehe. Puncak Rinjani sudah saya capai beberapa tahun silam, tinggal puncak Kerinci. Karena kendala waktu dan teman jalan, rencana ini pun tertunda cukup lama sampai suatu hari seorang teman mengajak untuk mendaki di bulan Desember.

“ Wah, bulan Desember kan basah” pikir saya, tapi kapan lagi, rencana ini sudah tertunda cukup lama dan untuk mendapat teman yang mau ke gunung Kerinci pun susah. Tanpa pikir panjang saya pun menerima tawaran tersebut. Gunung Kerinci dengan ketinggian 3805 MDPL, merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia, terletak di propinsi Jambi. Gunung ini berada di area Taman Nasional Kerinci Seblat. Gunung ini masih aktif dan terakhir meletus pada tahun 2009.

Rencana latihan fisik pun dibuat demi mendapatkan kondisi fisik yang maksimal saat pendakian nanti. Tapi rencana tinggal rencana, saya seringkali malas bergerak dan pada akhirnya selalu berpendapat “ ah fisik ga penting, yang penting mental.”. Ini hanya pembenaran saya saja karena malas. Latihan fisik diperlukan mengingat medan pendakian yang cukup sulit, bahkan lebih sulit dari saat mendaki gunung Rinjani, menurut saya ya.

Menuju Pos 1

Untuk pendakian, kita menggunakan jalur yang umum yaitu melalui Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Jalur dari bawah sampai puncak cukup jelas. Dari pusat kota Jambi menuju desa ini kurang lebih 3.5 jam sedangkan dari Padang kurang lebih memakan waktu 7-8 jam. Sebaiknya memesan penginapan sebelumnya karena biasanya penuh. Penginapan yang kami gunakan adalah penginapan Paiman (telp 085377714011)

Pendakian dimulai dari pintu rimba sampai pos 2 (2000 MDPL). Kami melewati ladang penduduk dengan latar gunung Kerinci yang gagah. Oh iya, sebelum pendakian pastikan untuk mengurus perijinan. Jangan pernah mendaki tanpa mengurus ijin karena jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pihak yang berwenang bisa dengan segera bertindak. Kita memasuki hutan tropis begitu melewati pintu rimba. Udara terasa sangat segar, mata dimanjakan dengan pepohonan hijau. Beraneka ragam suara binatang pun bersahut-sahutan seakan menyambut kami. Perjalanan menuju pos 1 relatif landai.

Menuju Pos 1, Masih Landai

Rencana kami di hari pertama adalah bermalam di shelter 2 lalu keesokan harinya menuju puncak Kerinci. Perjalanan menuju pos 3 (2250 MDPL) sudah mulai menanjak. Kami banyak melewati kubangan lumpur karena saat itu adalah musim penghujan. Perjalanan dari pos 2 ke 3 memakan waktu sekitar 1 jam. Kami mendaki berdua belas, dibagi menjadi 2 kelompok. Tidak semuanya saya kenal, mereka semua adalah temannya teman dan untungnya semua bisa saling menyesuaikan dalam pendakian ini. Hampir sepanjang jalan kami mengoceh tak henti, entah dari mana energi itu. Mungkin karena senang bisa mengobrol dengan teman yang sudah lama sekali tidak bertemu. di tengah-tengah pendakian, kami mendengar suara sekelompok kera bersahut-sahutan. Kami sempat berhenti beberapa menit untuk menikmatinya, kapan lagi mendengar suara itu di kota besar.

Jalur Sudah Mulai Terjal

Jalur menuju shelter 1 (2500 MDPL) sudah mulai terjal. Di beberapa titik saya harus menaiki tangga-tangga setinggi pinggang saya, menunduk atau melompati batang pohon yang melintang di jalur. Mungkin saya sudah terlalu lama tidak berada di hutan, tapi saya menikmati itu walau berjalan cukup lambat. Pentingnya latihan fisik baru saya sadari di sini. Beruntung teman perjalanan saya menyemangati dan tidak berhenti mengoceh agar saya tidak down. Jalur menuju shelter 2 lebih sangar. Jalan licin dan basah bahkan lebih menanjak dari jalur yang sebelumnya kita lewati. Kita melewati banyak pohon tumbang di sini. Shelter 2 berada di ketinggian 2950 MDPL. Begitu kami sampai di sini, langsung membagi-bagi tugas, ada yang mendirikan tenda, memasak, dan mengambil air. Setelah makan malam, kami semua pun membuat rencana untuk ke puncak besoknya.

Berkemah di Shelter 2

Pendakian ke puncak selalu membuat saya galau. Walau suka mendaki, tapi jalur menuju ke puncak bukan favorit saya. Beberapa tahun belakangan ini saya mendadak takut ketinggian ditambah saya merasa keseimbangan sangatlah jelek. Bangun subuh, udara dingin dan jalur ke puncak yang kiri kanannya jurang, lengkaplah sudah pikir saya. Tapi kami semua sudah sampai shelter 2 dengan perjuangan yang lumayan, rasanya tidak mungkin saya ujug-ujug bilang “ saya tunggu di tenda sajalah”.

Kami pun beristirahat lebih cepat malam itu agar siap melanjutkan perjalanan ke puncak keesokan harinya. Saya sempat berharap teman-teman kebablasan tidur jadi kita tidak perlu bangun pagi-pagi buta. Sayangnya tidak. Kelompok pertama bahkan jalan sekitar pukul 2 pagi untuk mengejar sunrise, sedangkan kami berjalan sekitar pukul 4. Beruntung di kelompok saya ini tidak ada yang menargetkan untuk melihat sunrise di puncak jadi kami berjalan agak santai.

Kalau dari shelter 1 ke 2 sudah gila,ternyata dari shelter 2 ke 3 lebih gila lagi. Kali ini saya bersyukur berjalan saat gelap, saya tidak perlu melihat jalur. Beberapa tanjakan setinggi saya dan kami harus berpegangan dengan akar pohon dan jalurnya pun sempit. Saat turun dari puncak saya berkali-kali bertanya ke teman bagaimana kami bisa melewati ini tadi pagi, bahkan terkadang saya ragu kalau sebelumnya kami melewati jalur itu. Kami sampai di shelter 3 (3200 MDPL) saat matahari terbit, beruntung kami sempat berhenti sebentar dan menikmati keindahannya. Shelter 3 merupakan dataran terbuka. Saya membayangkan bagaimana tenda harus dipasak karena tanahnya cukup keras dan anginnya lumayan kencang di situ. Kami sempat berencana untuk bermalam di sana sebelumnya, tapi untung tidak jadi, karena bisa dibayangkan sulitnya melewati jalur menuju shelter 3 sambil memanggul ransel. Membawa diri sendiri saja susah hehe.

Menuju Puncak

Memasuki shelter 3 menuju puncak jalur pendakian terbuka, jalur berbatuan dan berpasir. PR buat saya yang takut tinggi saat perjalanan turun dari puncak, karena keseimbangan jelek saya takut malah merosot dan jatuh ke jurang. Imajinasi saya memang kacau. Beruntung saya hanya terpleset sekali, saat itu kaki saya tidak menapak dengan benar dan jatuh, sekitar tulang ekor sempat menghantam batu. Beruntung tidak ada masalah. Sebelum mencapai puncak kita akan melewati tugu Yudha, merupakan tugu peringatan bagi seorang pendaki yang hilang di area ini dan belum ditemukan sampai sekarang. Pendakian menuju ke puncak Kerinci sebaiknya dilakukan sebelum pukul 10 karena biasanya kabut sudah mulai turun dan angin membawa asap belerang. Jarak pandang menjadi pendek dan sangat berbahaya. Kami berjalan sangat lambat karena sudah terlalu capek, ditambah medan berbatu-batu. Saat melewati tugu Yudha saya sempat down  dan hampir memutuskan untuk berhenti dan menunggu di sana saja. Untungnya teman saya kekeuh agar saya meneruskan jalan. Perjalanan tidak mudah, jalur berbatu-batu, badan lelah, berangin dan ditambah asap belerang. Setelah dipikir-pikir, untung saya tidak berhenti dan menunggu di dekat tugu Yudha karena bisa saja mereka tidak menemukan saya saat perjalanan turun atau bisa saja terjadi hal-hal jelek lainnya, siapa yang tahu.

Tugu Yudha, Peringatan akan Pendaki yang Hilang

Begitu sampai puncak, kami berfoto bersama dan segera turun. Pemandangan sudah tertutup kabut dan di puncak sangat berangin. Kami pun turun dengan hati ringan, walau puncak tertutup kabut tapi kami sudah bisa mencapai puncak dengan selamat. Setelah dari puncak kami segera turun dan menginap lagi di pos 2 untuk beristirahat baru kemudian turun ke desa besok paginya. Selama perjalanan turun kami lebih banyak bercanda sambil sebentar ngedumel kenapa tidak sampai-sampai.

Daerah sekitar gunung Kerinci terkenal sebagai penghasil teh. Pastikan untuk membeli teh sebagai buah tangan untuk keluarga di rumah. Jangan lupa, pelihara kebersihan selama di gunung, sampah sebaiknya dibawa ke bawah, jangan dibakar. Bawa perlengkapan lengkap seperti tenda, sleeping bag, matras, raincoat, makanan dan minuman yang cukup. Selamat mendaki!