Lengangnya Suasana Koto Gadang, Negeri Asal Para Orang Besar

Koto Gadang, sebuah nagari di Kabupaten Agam (di Sumatera Barat nagari itu lebih besar dari desa di daerah Jawa, terdiri dari beberapa jorong) selalu terlihat lengang. Bahkan di siang haripun tidak terlalu banyak kegiatan terlihat di sini. Begitulah keadaan nagari yang letaknya di seberang kota Bukittingi, dipisahkan oleh ngarai Sianok yang mempesona. Padahal Koto Gadang menurut riwayatnya adalah salah satu nagari tertua di Agam, di mana masyarakat di sini sesungguhnya berasal dari nagari tua Pariangan.

Untuk menuju Koto Gadang, kita bisa menggunakan 2 jalan utama. Pertama dari jalan raya Bukittinggi – Lubuk Basung, jika dari arah Bukittinggi sesampainya di nagari Koto Tuo kita belok ke kanan. Dari sini sudah tidak begitu jauh dan jalannya juga lurus. Jalur lainnya adalah melewati ngarai Sianok dari arah kota Bukittinggi. Kedua jalur ini sudah ada sejak dulu. Namun sekarang, jika kuat berjalan kaki, dari Sianok bisa melewati jalan yang baru beberapa tahun dibuka. Jalur ini sempat terkenal karena dianggap mirip “The Great Wall of China” walau tidak cukup panjang.

Walau sekarang terlihat lengang, jangan menganggap remeh Koto Gadang. Di antara lengangnya suasana, di daerah ini terdapat pengrajin kain tenun dan perak. Sejak puluhan tahun lalu, setiap wisatawan asing yang berkunjung ke Bukittinggi selalu mampir ke Koto Gadang untuk membeli hasil kerajinan masyarakat di sini. Sekarang hanya tinggal beberapa orang saja yang masih mengerjakan tenunan dan kerajinan perak. Kalau keahlian ini tidak ditularkan kepada generasi muda, dalam beberapa tahun ke depan bisa menjadi kenangan saja.

Dari daerah inilah lahir tokoh-tokoh bangsa Indonesia, di antaranya Sutan Sjahrir, H. Agus Salim, Rohana Kudus dan masih banyak lagi. Jadi, jika datang ke Koto Gadang kita ibarat mengunjungi daerah orang-orang besar. Sejak abad ke 19 di Koto Gadang ini memang sudah berdiri sekolah desa. Tidaklah heran jika orang-orang dari sini pintar-pintar. Karena pintar banyak dari mereka yang jadi pegawai di zaman Belanda.

Rumah gadang sebagai rumah adat tidak terlalu banyak ditemukan, tetapi rumah dengan arsitektur khas banyak sekali di sini. Rumah-rumah itu ukurannya besar-besar dan banyak yang kosong tidak berpenghuni. Kebanyakan karena ditinggal merantau oleh pemiliknya. Dari dahulu orang Koto Gadang memang banyak yang pergi merantau bahkan hingga ke luar negeri. Jikapun tidak kosong, paling-paling rumah besar tersebut hanya dihuni oleh 1 atau 2 orang saja. Tidak heran jika Koto Gadang terlihat sepi walau di siang hari.