Lawang Sewu, Bangunan Kuno Salah Satu Ikon Kota Semarang Tidak Lagi Menyeramkan

Dalam beberapa cerita, Lawang Sewu, sebuah gedung tua di Kota Semarang ini digambarkan sebagai sebuah gedung angker tak terawat. Aku sedikit penasaran juga membaca artikel tersebut, akhirnya ketika ke Semarang aku datangi lokasi yang dibilang angker ini. Nyatanya setelah aku sampai di sana, yang kebetulan malam hari (aku datang kembali keesokan harinya), gedung ini jauh dari seram atau angker. Malah amazing banget, lampu-lampu hidup di semua ruangan bahkan di luar sekeliling gedung. Aku menyukai design lampu-lampunya yang menghadirkan suasana tempo dulu yang temaram dan hangat.

Denah Lokasi dan Keterangan Gedung

Sejarah
Lawang Sewu, yang artinya seribu pintu adalah gedung gedung bersejarah di Indonesia yang berlokasi di Kota Semarang, Jawa Tengah. Gedung ini, dahulu yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein. Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu karena bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak, meskipun kenyataannya, jumlah pintunya tidak mencapai seribu. Setelah dilakukan penghitungan pada waktu renovasi besar-besaran jumlahnya hanya 928 pintu dan jendela. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).

Interior

NIS mempercayakan rancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam . Seluruh proses perancangan dilakukan di Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke Kota Semarang. Melihat dari cetak biru Lawang Sewu tertulis bahwa site plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903. Begitu pula kelengkapan gambar kerjanya dibuat dan ditandatangani di Amsterdam tahun 1903.

Halaman Dalam di Malam Hari

Lawang Sewu Sekarang
Setelah renovasi selesai gedung ini dijadikan sebagai museum kereta api dan dioperasikan oleh PT.KAI (Kereta Api Indonesia). Untuk memasuki gedung ini pengunjung dikenakan biaya tiket Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak. Untuk memasuki gedung kalian harus membeli tiket di pintu depan dan kemudian oleh petugas ditawarkan apakah ingin didampingi pemandu atau tidak. Jika datang ramai-ramai sebaiknya pakai jasa pemandu. Sebelum memasuki gedung utama, gerbang tiket juga sudah modern dengan sistem scan.

Halaman Dalam di Siang Hari

Di hari kerja saja Lawang Sewu ini ramai dikunjungi, apalagi di hari libur. Hampir di semua ruangan kalian bisa berfoto dan sudah pasti foto-fotonya keren dan memorable banget. Untuk mengelilingi seluruh ruangan di Lawang Sewu ini sih sesungguhnya tidak bakal lebih dari sejam, tetapi kalian bisa berjam-jam di sana hanya untuk berfoto. Apalagi jika kalian memang tertarik untuk mempelajari sejarah perkereta apian. Beberapa replika lokomitif bisa ditemukan di Lawang Sewu. Termasuk replika stasiun kereta api.

Replika Lokomotif

Menyusuri ruangan-ruangan, lorong-lorong di komplek Lawang Sewu ini memiliki sensasi sendiri. Karena kalian bisa merasakan suasana tempo dulu ketika kereta api adalah transportasi utama di negeri ini. Jadi jika ada yang menulis bahwa Gedung Lawang Sewu di Semarang ini angker dan seram gak usah percaya. Karena kalian bisa berulang-ulang ke sana, minimal untuk foto-foto. Pokoknya recommended banget deh Lawang Sewu ini. Mau lihat foto-foto lain? Follow aja akun IGku di sini.