Keindahan Balkan Yang Sering Terlewatkan, Novi Sad Menawarkan Kenyamanan Seperti Rumah Kedua.

“Ići će u Nis, to će ići u Novi Sad!” jawab seorang laki-laki paruh baya ketika kami baru saja memasuki peron stasiun dan bertanya mana kereta yang menuju ke Novi Sad. Aksen Serbianya yang kental dan keramahannya  menjelaskan bahwa kereta yang menuju Novi Sad ada di peron seberang dan akan berangkat dalam waktu 10 menit. Secepat kilat kami berlari untuk mengejar kereta hingga kami tak perlu harus menunggu kereta berikutnya. Sebagai informasi, jika ingin pergi ke Novi Sad menggunakan kereta, maka dapat menggunakan kereta yang tujuan akhirnya adalah Vienna, karena untuk menuju ke Novi Sad melewati jalur yang sama dengan Vienna. Harga tiket untuk PP Belgrade – Novi Sad adalah 780rsd (sekitar 90rb rupiah), sedikit lebih mahal dibandingkan hari kerja yang harganya sekitar 600rsd.

Setelah memasuki kereta, saya duduk rapi dan menikmati kereta ala “Eropa” yang baru pertama kali saya naiki. Tidak lama kemudian berangkatlah kami menuju pemberhentian pertama yaitu Novi Sad. Memang, saya dan teman-teman merencanakan untuk mengunjungi Novi Sad hanya seminggu sebelum hari keberangkatan, tanpa persiapan apapun. Berniat berangkat di hari minggu pagi hari dan kembali pada sore hari, karena hari berikutnya kami harus kembali lagi dengan kesibukan kursus bahasa serbia yang akan mendekati Ujian Level A2.

Kereta Api di Belgrade

Pertualangan pun dimulai. Tidak perlu duduk lama di kereta untuk mengunjungi Novi Sad, hanya 1,5 jam waktu yang kami tempuh Belgrade – Novi Sad, sampai lah di Stasiun Novi Sad. Hembusan angin awal musim semi segera menyambut ketika kami keluar dari kereta seakan menawarkan kesejukan kota terbesar ke-2 di Serbia ini setelah Belgrade. Tak lupa kami menyapa petugas yang berdiri di peron yang mengamati tiap penumpang yang turun. “Dobro Jutro!”, Selamat Pagi sapa kami, seiring jam masih menunjukkan pukul 09.00 pagi.

Stasiun Novi Sad

Sesampainya di Novi Sad, tujuan pertama kami adalah The Old Petrovaradin Fortress. Untuk menuju ke wilayah Petrovaradin, kami berjalan tidak terlalu jauh dari stasiun untuk menemukan halte bus yang menuju ke sana. Setelah sampai di halte bus tersebut, kami dapat melihat jadwal serta nomor bus untuk menuju ke benteng tersebut. Hal ini yang membuat saya suka untuk traveling di wilayah eropa, yaitu petunjuk bus dan jalan yang mudah di pahami serta ketepatan waktu bus/kereta yang tidak pernah telat.

Atap bangunan tua di Novi Sad

Bus untuk menuju ke Petrovaradin adalah Bus nomor 3, yang tiba tiap 15 menit sekali. Itu artinya kami tidak perlu menunggu lama untuk menahan dingin nya udara di halte. Berbeda dengan Belgrade yang menggunakan kartu Bus Plus untuk menaiki alat transportasi seperti Autobus, Trolleybus, dan Tramvay, sistem transportasi di Novi Sad mengharuskan kami bayar langsung di supirnya. Yeap, mereka tidak punya ‘kenek/konduktor bus’ yang sering kami jumpai di angkutan publik Indonesia untuk mengumpulkan uang dari ongkos penumpang. Jadi, ketika kami masuk bus maka langsung bayar ke supir dan dipersilahkan masuk. Ongkos dari halte dekat stasiun kereta ke Petrovaradin adalah 55rsd.

Anak tangga menuju bagian atas benteng

Sekitar 15 menit waktu yang kami tempuh untuk sampai di Petrovaradin Fortress. Ini adalah sebuah benteng tua yang bersejarah yang terletak di wilayah Petrovaradin, di tepi sungai Danube. Benteng bersejarah ini sebagai bukti pertempuran yang berlangsung pada 5 Agustus 1716 antara tentara kekaisaran Austria yang di pimpin oleh Pangeran Eugene dengan angkatan bersenjata Ottoman (Turki) yang dipimpin oleh Silahdar Damat Ali Pasha. Namun akhir-akhir ini, Benteng Petrovaradin terkenal di kalangan anak muda karena dijadikan tempat acara “EXIT FESTIVAL”, yaitu festival musik di musim panas yang merupakan salah satu festival musik terbaik dan terbesar di Eropa, sehingga ketika acara tersebut diadakan, maka Benteng akan penuh dengan anak muda dari seluruh Eropa.

Pemandangan sungai Danube

Untuk sampai ke bagian atas, kami melewati beberapa anak tangga yang terbuat dari bebatuan serta beberapa kali melewati lorong berbatu yang terlihat sangat tua namun kokoh. Bangunan ini sangat indah dengan arsitektur gaya eropa yang tidak direkontruksi ulang membawa efek damai dalam hati. Menikmati pemandangan indah atap rumah, anak tangga, bunga – bunga yang baru bermekaran senang menyambut musim semi, serta beberapa wisatawan yang menyapa ketika saling bertatapan menghilangkan rasa lelah menapaki anak tangga. Dengan sesekali mengabadikan moment indah di sebuah bangunan yang termasuk bersejarah dalam peradaban Eropa.

Pemandangan kota yang terlihat dari bagian atas benteng

Di benteng ini, terdapat sebuah Tower jam yang merupakan titik tertinggi dari benteng. Tower ini yang mengingatkan saya pada Jam Gadang di Padang, Indonesia (meskipun saya sendiri belum pernah ke Padang untuk lihat jam besar tersebut secara langsung. Wilayah Petrovaradin memang merupakan wilayah dataran tinggi, sehingga ketika kami sampai di bagian atas benteng, kami dapat melihat pemandangan kota Novi Sad, atap rumah dan gereja-gereja katolik.

Tower jam serta pohon dengan kacamata yang di desain terlihat seperti wajah

Selain pemandangan kota Novi Sad, kami dapat melihat bentangan jembatan yang melintasi sungai danube yang tak kalah indah. Danube sendiri adalah sungai kedua terpanjang di Eropa setelah Volga, dan diklasifikasikan sebagai jalur air internasional. Secara keseluruhan terdapat sepuluh negara yang dilaluinya, yaitu Austria, Bulgaria, Kroasia, Jerman, Hungaria, Moldavia, Slowakia, Rumania, Ukraina, dan Serbia. Karena musim semi, dan udara masih agak dingin disertai angin maka tidak terlalu banyak wisatawan yang berkunjung kesana.

Di bagian atas benteng terdapat restoran, kafe serta sebuah ruangan yang memajang karya seni interior seperti lukisan, sketsa, dan foto-foto mulai dari yang modern hingga yang terkesan tua, yang bermakna konkrit maupun abstrak. Tidak perlu merogoh kantong untuk masuk ke dalam benteng ataupun kedalam ruangan dengan desain interior tersebut. Beberapa souvenir dipajang untuk menarik hati para wisatawan.

Ruang pameran foto dan lukisan

Setelah puas menikmati keindahan Petrovaradin Fortress, rasa lapar yang tidak bersahabat membuat kami memutuskan untuk mencari restoran di sekitar Centrum, karena disana memungkinan untuk dapat restoran yang menyediakan menu Halal dan destinasi kami selanjutnya adalah mengunjungi berbagai tempat menarik di pusat kota Novi Sad.