Jika ke Cappadocia, Nikmati Kelezatan Kuliner Khas Testi Kebab di Dalam Gua Yang Nyaman

Hari telah menjelang tengah hari di Cappadocia. Setelah menikmati pemandangan spektakuler di lembah Goreme dan cerobong peri (fairy chimney), kami diminta untuk segera naik ke bis karena saat makan siang segera tiba. Tak berapa lama bis melaju menuju ke sebuah restoran, masih di wilayah Cappadocia. Kami menuju restoran yang terletak di dalam gua dengan hidangan kuliner khas lokal, testi kebab.

Turun dari bis terbaca jelas nama restoran di atas pintu masuk, Dede Efendi  Kaya Restaurant. Bagi orang Indonesia membaca ini terasa sesuatu yang akrab di telinga dan mata, sesuatu yang jelas artinya. Kesannya ini restoran kok sombong banget ya. Tuan Dede Efendi  ini kok pengumuman kalau dia kaya, he he. Tapi  ini di Turki, tentu artinya bukan seperti itu. Ternyata, Dede Efendi diambil dari nama julukan seorang komposer terkenal  musik-musik klasik Turki pada abad ke 18. Dan kata ‘kaya’ dalam Bahasa Turki berarti batu besar, dan saya mengartikannya sebagai  batuan bumi yang digali atau dikeruk membentuk gua buatan yang dijadikan restoran gua.

Pintu masuk restoran gua yang kami tuju

Sedikit cerita tentang Dede Efendi, nama aslinya Ismail, beliau dilahirkan di Istanbul pada tahun 1778. Pada usia yang masih muda, pada tahun 1799, beliau dianugrahi gelar ‘Dede’ atas semua prestasinya bagi  Kesultanan Ottoman kala itu. Dede yang berarti Datuk/Kakek, merupakan gelar kehormatan, mungkin semacam gelar Datuk di Malaysia. Efendi juga julukan kehormatan yang artinya ‘tuan’. Jadi Dede Efendi  artinya Tuan Datuk, begitu kira-kira.

Atmosfer di dalam gua terasa nyaman, bersih, ada ventilasi meskipun tanpa jendela. Ini adalah kali pertama makan di restoran yang berada di dalam gua, dan tentu saja ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Cuaca musim dingin masih terasa hingga di dalam restoran. Ruangan di dalamnya cukup luas, kursi-kursi yang tersedia dapat menampung tidak kurang dari 100 tamu. Dihiasi lampu-lampu temaram yang digantung di dinding gua. Dekorasi ruangan cukup menarik, benar-benar tidak merasa di dalam gua. Batuan tufa Cappadocia yang lunak memungkinkan untuk digali menjadi gua.

Suasana di dalam restoran ketika menunggu hidangan utama

Sudah menjadi tradisi di Turki, bahwa saat makan adalah ajang kumpul-kumpul, entah untuk kumpul keluarga atau kumpul-kumpul sosial lainnya. Sehingga acara makan dapat memakan waktu yang cukup lama. Sebelum hidangan utama selalu diawali dengan hidangan pembuka yang disebut meze, yaitu kombinasi dari aneka salad, daun selada,  mentimun, tomat, bawang putih,  minyak zaitun, yoghurt buat cocolan, serta sup kental yang dihidangkan bersama roti pita (roti panggang yang bentuknya gepeng tipis). Meze dihidangkan untuk disantap sembari ngobrol sementara menunggu menu utama dihidangkan.

Meze, aneka hidangan pembuka sebelum testi kebab dihidangkan

Menu utama kami tentu saja kuliner khas Cappadocia, yaitu testi kebab atau kebab gerabah saya menerjemahkannya. Testi berarti gerabah dan kebab sendiri yang sebelumnya saya ketahui adalah masakan yang terbuat dari daging dan dipanggang atau ditusuk dengan batangan besi. Tapi hidangan kami siang itu, potongan daging domba dicampur potongan wortel, seledri, bawang bombay, kentang, dan bawang putih dimasak dalam jambangan yang terbuat dari tanah liat, kemudian mulut  jambangan ditutup dengan adonan roti (seperti zoupa soup), dan dibiarkan selama beberapa jam. Jambangan gerabah inipun diproduksi oleh penduduk lokal Cappadocia, tepatnya dari  Desa Avanos. Gerabah produksi Avanos ini terkenal ke seantero Turki. Diduga produksi kerajinan gerabah ini telah dimulai sejak zaman Kekaisaran Hittit pada lebih dari 5 abad yang lalu. Sungguh kesetiaan yang luar biasa dari masyarakat di sini dalam mempertahankan tradisinya.

Atraksi kecil membuka tutup jambangan sebelum testi kebab dihidangkan

Tentu saja kami tidak harus menunggu berjam-jam untuk menikmati kebab gerabah, karena sebelumnya sudah dipesan. Tak lama menikmati meze, kebab gerabahpun keluar, dibawa menggunakan semacam kereta dorong. Satu jambangan yang panas mengepul berisi kebab dan beberapa mangkok gerabah telah disiapkan. Bau harum masakan telah menyebar ke sekeliling ruangan. Hidangan belum siap untuk dihidangkan sebelum dilakukan ritual berikut ini. Sang juru masak dengan sebilah pisau tajam ditangan siap beraksi membuka tutup jambangan yang terbuat dari adonan roti. Semua mata kami memandang atraksi yang diperagakannya. Dan setelah tutup terbuka, kebab mulai dibagi ke dalam mangkuk-mangkuk kecil dan siap dihidangkan bersama nasi. Dan…. tidak sempat ambil foto-lagi karena sibuk menikmati kebab gerabah.

Ruangan restoran gua yang luas

Menurutku rasanya enak, tapi beberapa teman tetap menambahkan saus cabe khas Indonesia karena beranggapan masakan Turki kurang tajam rasanya. Ya itulah pengalaman kami makan di restoran gua. Setelah selesai kamipun beranjak pergi meninggalkan restoran dengan perut kenyang tentunya dan siap meneruskan perjalanan petang melihat bagian lain dari Cappdocia.