Jalan-Jalan di Kota Kuching, Jangan Lewatkan Kawasan Waterfront, Tepian Sungai yang Indah dan Menyenangkan

Air Sungai Serawak yang berwarna keruh kecoklatan mengalir tenang, membagi dua pusat kota Kuching, ibukota negara bagian Serawak, Malaysia, menjadi bagian utara dan selatan. Sungai adalah urat nadi transportasi dan perdagangan, sehingga di masa lampau kawasan pemukiman umumnya di bangun di dekat sungai agar dekat ke sumber air selain dekat ke jalur transportasi air, seperti dekat ke jalan raya kalau pada masa sekarang. Kawasan tepian Sungai Sarawak yang kini berkembang menjadi waterfront mulai dibangun sejak Sarawak berada dibawah pengawasan Rajah Putih Sarawak yang pertama James Brooke pada tahun 1839. Kawasan waterfront menjadi saksi perjalanan sejarah kota Kuching, menghubungkan masa lampau dan masa sekarang serta masa depan. Bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan para rajah putih dari Inggris Raya, masih berdiri kokoh di kedua tepian sungai, menjadi warisan kota tak lapuk dimakan usia dan tetap dipelihara dengan baik.

Di seberang sungai, di tepian sebelah utara, dari kejauhan tampak berdiri Benteng Margherita yang berwarna putih cemerlang, tampak kontras menyembul di atas bukit diantara warna hijau pepohonan.  Benteng Margherita merupakan  bangunan bersejarah yang dibangun tahun 1879, pada masa Charles Brooke, Rajah Sarawak kedua dari tiga rajah dinasti Brooke dan diberi nama sesuai nama istrinya. Benteng ini berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan para pembajak.  Dibangun menyerupai puri di Inggris, dikelilingi oleh dinding yang tinggi. Benteng Margherita kini menjadi salah satu objek wisata penting di Kuching. Masih di seberang sungai, tepat di tepian sungai  terdapat Astana, sebuah istana dengan taman yang luas, dibangun oleh Charles Brooke Rajah Sarawak kedua. Kini Astana menjadi kediaman Yang di-Pertua Negeri Sarawak, gubernur negara bagian Sarawak. Di antara kedua ikon tersebut berdiri ikon baru Dewan Undangan Negeri of Sarawak (gedung DPR), yang arsitekturnya terinspirasi bentuk topi jerami suku Dayak Melanau.

Kuching Waterfront, tepian Sungai Sarawak berpanorama bangunan cantik Gedung Dewan, jembatan baru, lampu-lampu hias dan area terbuka yang luas.

Di tepian sungai di sisi selatan lebih berkembang daripada sisi utara. Bangunan-bangunan megah bergaya Inggris yang dibangun pada masa dinasti Brooke tetap dipertahankan, diantara rumah-rumah toko, pusat perbelanjaan dan hotel yang dibangun pada masa kemudian.  Main Bazaar  adalah jalan yang telah dibangun sejak lama, yang awalnya berupa jalan tanah dan mengalami perkembangan hingga seperti yang tampak sekarang. Sarawak adalah negara bagian Malaysia yang paling beragam secara budaya. Etnis Dayak dengan beragam kelompok merupakan penduduk mayoritas seperti Iban (29%), Bidayuh (8%), Melanau (6%); dan Dayak lainnya (5%), etnis Cina (25%), Melayu (22%), dan sisanya India. Keberagaman budaya ini juga tampak di Kuching. Di sepanjang Main Bazaar terdapat sederetan toko-toko souvenir yang umumnya isinya didominansi kerajinan bercorak Dayak. Kawasan Pecinan dan India Street juga berada di sekitar Main Bazaar, tempat  wisata kuliner  dan  belanja kebutuhan sehari-hari. Etnis Cina sebagai kelompok etnis yang cukup dominan keberadaannya tampak nyata. Pecinan, yang dijumpai di Jalan Padungan, Main Bazaar dan Carpenter Street merupakan deretan kedai-kedai makanan dan kopi, toko emas, hotel budget dan beragam toko lainnya.

Berolahraga pagi di ruang publik Kuching Waterfront

Tepian sungai yang awalnya tanah berdebu telah mengalami peremajaan sebagai waterfront yang kian cantik dan menjadi area publik yang menarik minat para pelancong yang datang ke Kuching, dihiasi taman dengan barisan pepohonan rindang, lampu-lampu taman yang cantik dengan tenaga matahari, lapangan terbuka yang diisi dengan bangku-bangku taman, deretan cafe tepi sungai, plakat-plakat bersejarah, patung-patung hias, poster-poster besar wajah-wajah etnis penduduk Sarawak, serta air mancur. Di taman tepi sungai juga dibangun fasilitas olahraga untuk umum, seperti tenis meja dan juga jalur untuk jogging. Di pagi hari banyak penduduk  yang memanfaatkan fasilitas olahraga ini. Meskipun kecoklatan air sungai yang mengalir bersih terasa sedap dipandang mata, dihiasi sampan-sampan bertudung berjalan hilir mudik membawa penumpang ke perkampungan seberang sungai. Kapal besar wisata pelayaran Sarawak Cruise terapung di dermaga siap menghantar para turis untuk menikmati panorama di sepanjang tepian sungai, dengan harga tiket 65 RM per orang.

Kesibukan tukang sampan di pagi hari mengantar penumpang ke seberang sungai.

Kuching merupakan kota yang sangat ramah bagi pejalan kaki dengan kondisi lalu lintas yang tidak seramai Kuala Lumpur maupun Pontianak. Kuching kotanya bersih, rapi, tenang dan nyaman, tak ada hiruk pikuk ataupun deru kendaraan yang meraung-raung di jalan raya. Berjalan kaki di sepanjang waterfront sama sekali tidak terasa melelahkan karena banyak tersedia bangku-bangku untuk duduk mengaso sambil menikmati keindahan panorama sungai. Sungguh menyenangkan berjalan-jalan di sepanjang Waterfront Kuching. Banyak bangunan bersejarah yang bisa dikunjungi atau spot menarik untuk difoto seperti Chinese History Museum atau   Kuil Tua Pek Tong yang terletak di sudut jalan. Sesuai namanya, di kota Kuching kita akan banyak menjumpai patung kucing. Setidaknya ada tiga yang kujumpai dalam perjalanan di sepanjang tepian sungai. Yang pertama di dekat India Street, lalu di dekat hotel Majestic Riverside  dan yang ketiga terletak agak jauh dari sungai di ujung jalan Padungan. Ada juga museum kucing tapi saya belum sempat kesana.

Sarawak River cruise siap membawa anda menyusuri sungai

Hotel tempat kami menginap terletak di dekat Lapangan Merdeka, masih di sekitar waterfront sehingga setiap pagi kami sempatkan untuk berjalan kaki saja berkeliling di area ini. Banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi diantaranya ada dua museum, yaitu Textile Museum dan Art Museum. Dari dua museum ini saya justru banyak mengenal budaya Dayak yang merupakan penduduk asli Kalimantan. Menurut sejarah yang saya baca di museum tersebut bangsa Dayak yang mendiami Sarawak berasal dari Kalimantan (bagian Borneo yang menjadi wilayah Indonesia). Mereka bermigrasi ke Sarawak jauh sebelum para rajah putih dari dinasti Brooke memerintah di Sarawak.

Patung kucing salah satu ikon kota Kuching

Banyak yang dapat dipelajari dari Kuching Waterfront dalam hal mengelola sungai sehingga menjadi tempat rekreasi di perkotaan yang menyenangkan. Tepat di tepian sungainya tidak dibangun pemukiman, Main Bazaar yang merupakan jalan awal yang dibangun tempo dulu juga terletak berjarak dari tepian sungai. Tepat di tepi sungai di beri berpagar yang dihiasi dengan lampu-lampu cantik. Area pedestrian di tepi sungai di buat lebar untuk  para pejalan kaki dan penikmat keindahan sungai. Kebersihan sungai sangat terjaga. Kota-kota di Indonesia yang dilalui sungai besar seperti Palembang dan Jakarta patut mencontoh Kuching Waterfront. Keberadaan sarana transportasi sungai masa lalu yang sederhana, berupa sampan-sampan dayung berlayar hilir mudik membawa penumpang ke dua sisi sungai masih tetap ada. Tampaknya akan tetap bertahan, meskipun kini di area waterfront tengah dibangun jembatan berarsitektur modern yang menghubungkan kedua sisi sungai, menghubungkan bagian utara dan selatan kota. Sungai Serawak menyimpan rekaman sejarah masa lalu dan masa depan kota Kuching.