Explore Danau Toba dan Bukit Lawang, Medan-Sumatera Utara

Pada 20 Agustus 2014, Saya melakukan perjalanan ke Medan dalam rangka Studi Lapangan Arsitektur Trisakti. Terbang dari Jakarta menuju Medan selama 1.5 Jam. Sesampainya di Bandara Kualanamu Medan, rombongan kami dijemput oleh tour bis dan langsung menuju ke Danau Toba. Perjalanan menuju Danau Toba memakan waktu cukup lama, estimasi perjalanan sekitar 5 jam menjadi 7 jam lebih dikarenakan macet. Sampai di Danau Toba, rombongan kami menyebrang ke Pulau Samosir sekitar jam 20.00 WIB. Penyebrangan menggunakan kapal kecil ini memakan waktu sekitar 45 menit.

Sesampainya penginapan, makan malam dan istirahat. Keesokan harinya, rombongan kami bersiap mengunjungi Desa Tomok dan Kampung Ambarita, kemudian melakukan studi lapangan tentang Arsitektur Tradisional Rumah Adat Batak Toba.

Rumah Adat Pesisir Danau Toba

Jika kalian pecinta sejarah, mengunjungi Desa Tomok dan Ambarita tentunya wajib menjadi destinasi penting bagi kalian mempelajari sejarah Suku Danau Toba dan kisah kerajaannya. Walau beberapa rumah adat sudah tidak asli lagi, melainkan replika. Konon katanya beberapa bangunan bersejarah penting banyak yang dibakar habis oleh penjajah pada masanya, sungguh fakta yang menyedihkan.

Hotel di Pulau Samosir

Nah, bagi travellers yang tertarik menjelajah Pulau Samosir. Wajib bagi kalian menginap di hotel atau cottage tepat di pinggir Danau Toba yang indah ini. Sambil bersantai, bisa berenang di pinggir danau (bagi yang jago berenang), memancing dan menikmati pemandangan yang indah di pulau ini.

Pagi Hari di Danau Toba

Setelah puas menjelajah keindahan Danau Toba, rombongan kami mampir ke Air Terjun Sipiso-Piso dan mengunjungi Desa Batak Karo. Setelah selesai mengunjungi desa-desa sejarah, kami menginap semalam di Berastagi sambil wisata makan durian Medan, main layang-layang di Bukit Lawang dan paginya menikmati sunrise dengan pemandangan Gunung Sinabung yang sangat indah.

Di hari ke-empat, rombongan kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Lawang. Dari Berastagi ke Bukit Lawang memakan waktu 4.5 jam. Melewati jalan yang meliuk-liuk menuruni bukit sambil disuguhi pemandangan yang indah dan hutan sawit. Sesampainya di Bukit Lawang, menuju penginapan dan bersiap trekking menjelajah hutan di Bukit Lawang untuk melihat orangutan.

Bukit Lawang terkenal dengan sungai yang lebar dan arus yang cukup deras. Setelah siap berangkat menjelajah Bukit Lawang, rombongan kami jalan menyebrangi jembatan besi gantung berwarna merah atau disebut Jembatan Wisma Leuser Sibayak yang merupakan salah satu akses perjalanan menuju kawasan hutan lindung.

Rombongan Trekking bersama Pemandu Wisata

Menelusuri Hutan Lindung Leuser, sesekali melihat ke atas ada monyet-monyet hutan berlompatan dari dahan ke dahan. Saya cukup takjub, di beberapa bagian hutan terdapat sarang atau rumah monyet ekor panjang yang berbentuk bulat, jika diperhatikan detail bentuk bulat tersebut dibangun dari kumpulan ranting-ranting menggantung tinggi diatas pohon. Jika kalian ingat film kartun Marsupilami, kurang lebih seperti itu.

Setelah hampir 2 jam lebih rombongan kami blusukan mengikuti pemandu wisata, akhirnya kami sampai di tempat pengamatan Orang utan Sumatera semi-liar di kawasan hutan lindung Taman Nasional Gunung Leuser. Orang utan Sumatra (Pongo abelii) adalah salah satu dari dua spesies orangutan di Indonesia dan hanya dapat ditemukan di pulau Sumatera. Warna bulu Orang utan Sumatera lebih orange terang dibanding warna bulu Orang utan Kalimantan.

Orang utan Sumatra / Pongo abelii

Kata sang pemandu, rombongan kami beruntung ketemu Orang utan, pas kebetulan jam makan siang mereka juga sih.

Mba-mba Bule dan Bapak Pawang Orang Utan

(Mba-mba Bule dan Bapak Pawang Orang Utan)

Jika kalian menjelajahi Bukit Lawang, pasti cukup banyak berpapasan dengan turis-turis asing yang juga ingin melihat Orangutan. Dan jika kalian suka nonton film jejak petualang ya acara tv sejenis ini lah, pasti kalian tak asing melihat bapak pawang Orangutan ini yang memiliki tampilan rambut gondrong.

Setelah puas melihat orangutan, kami beristirahat sejenak di air terjun kecil, dan menuju muara sungai. Sang pemandu menawarkan, daripada bercapek-capek ria jalan pulang ke hotel dan jauh. Lebih baik pulang naik rafting ban besar. Rafting dengan ban hitam besar yang diikat berjajar kebelakang dan di bagian depan dipandu sang nahkoda yang mengendalikan kapal rafting dengan tongkat kayu, jadi kami tinggal duduk. Rombongan kami menyetujui pulang dengan cara tersebut. Semua peralatan elektronik dimasukkan ke kantong plastik besar dan kami tinggal duduk sambil berpegangan erat pada tali di ban. Perjalanan rafting melewati sungai dengan arus deras dan batu-batuan, baju basah, sangat seru. Disuguhi pemandangan alam sisi kiri pemukiman warga sisi kanan Hutan Lindung Leuser / Bukit Lawang. Dengan pemandangan unik anak-anak desa mandi di sungai, ibu-ibu mencuci pakaian, dan beberapa turis internasional bermain-main di sungai.

Petualangan menjelajah Danau Toba, Pulau Samosir, kemudian ke Berastagi, dan terakhir menjelajah Bukit Lawang. SOOO AWESOMEEEE!!!!

CHEERS!!!