Doom, Pulau Kecil yang Menjadi Saksi Sejarah Masa Pendudukan Belanda dan Jepang, Menjadi Ibu yang Melahirkan Kota Sorong

Cuaca di sore itu masih terasa panas menyengat. Seperti itulah cuaca keseharian di kota Sorong. Kami sudah menunggu matahari condong ke arah barat agar sedikit terhindar dari cahaya matahari yang terik. Hotel tempat kami menginap terletak di kawasan Tembok Berlin, sangat dekat ke pantai Dofiori atau lebih dikenal dengan Pantai Tembok Berlin. Sore itu kami ingin jalan-jalan ke Pulau Doom, sebuah pulau kecil yang letaknya berdekatan dengan Kota Sorong di Papua Barat. Pulau Doom atau Dum, memiliki luas 3,5 km persegi dan panjang keliling pulau 4,5 km. Untuk menuju ke pulau ini kita harus menuju ke sebuah pelabuhan khusus untuk penyeberangan dari dan ke Pulau Doom.

Kami cukup berjalan kaki dari hotel menuju ke pelabuhan. Setelah menyeberangi jalan raya yang ramai kendaraan kami berbelok menuju ke jalan kecil. Tidak jauh kami berjalan dari jalan raya ke pelabuhan. Beberapa long-boat tampak bersandar di pantai. Seorang bapak menghampiri dan menawari kami untuk menumpang di long-boatnya. Tarifnya cukup murah, 5000 rupiah saja per kepala untuk satu kali jalan. Ada beberapa orang lagi yang berlayar bersama kami. Tak lama kapal kami melepaskan tambatannya dan mulai berlayar. Suara motor menderu membawa perahu menyibak laut biru. Pelayaran menyebrangi laut menuju Pulau Doom hanya sebentar saja, lima belas menit saja.

Abang becak siap menyambut para wisatawan

Deretan rumah-rumah panggung bertiang kayu berjajar di tepian pulau. Sebagian tiang-tiangnya terendam air laut. Tampak anak-anak bermain di atas hamparan papan kayu yang menjadi halaman rumah. Puluhan long-boat berderet rapi di dermaga Pulau Doom yang terletak tepat di depan sebuah pasar. Long-boat merapat ke pantai. Satu persatu penumpang naik ke daratan pulau. Abang-abang becak dengan sigap menghampiri menawarkan jasa untuk menghantar kami keliling pulau. Pulau Doom memang tidak luas. Dijelajahi dengan berjalan kakipun tentu bisa tercapai. Tapi di bawah cuaca panas begini, siapa sanggup. Terlebih kami tidak tahu letak spot-spot menarik yang hendak dikunjungi. Seorang abang becak dengan wajah asli Papua mendekat dan memperkenalkan diri kalau dia adalah wakil ketua paguyuban becak di pulau tersebut dan menawarkan jasa menghantar sekaligus menjadi pemandu kami. Kamipun setuju, dan ia lantas memanggil 3 orang temannya untuk turut serta membawa kami keliling pulau.

Rumah-rumah penduduk yang dibangun masa kolonial Belanda

Sekilas tak nampak ada sesuatu yang menarik dengan pulau ini, tetapi setelah mendengar sejarah pulau ini baru tampak bahwa pulau ini memang spesial. Jauh sebelum Kota Sorong berkembang dan dipenuhi oleh penduduk, Pulau Doom telah berkembang dan menjadi pulau yang modern untuk ukuran kala itu. Ketika Kota Sorong masih gelap gulita, Pulau Doom telah terang benderang. Pulau Doom menjadi tempat bagi warga Sorong kala itu untuk berbelanja, kini keadaannya menjadi terbalik, warga Pulau Doom yang berbelanja ke Sorong. Pulau ini sudah dihuni masyarakat sejak masa kolonial Belanda, sejak tahun 1800-an. Di awal abad 19, Belanda menjadikan Doom sebagai ibu kota pusat pemerintahan Kota Sorong dan merencanakan serta menata pulau kecil secara apik. Dengan fasilitas seperti gedung kesenangan, gereja, barak/asrama serdadu, Perumahan Pejabat Pemerintahan, perkantoran, sumur air minum serta pembangkit listrik tenaga diesel.

Lapangan bola yang dibangun pada masa kolonial Belanda

Beca kami meluncur di jalan sempit yang hanya cukup dilalui oleh dua beca berpapasan. Beca merupakan alat transportasi utama selain kendaraan bermotor roda dua di pulau ini, tak ada kendaraan roda empat. Rumah-rumah peduduk padat berhimpitan di kiri kanan jalan yang dilalui, dihuni oleh beragam etnis, Papua, Cina dan kaum pendatang seperti dari Sulawesi dan Maluku, dan beragam agama, ada Islam, Katolik, Pantekosta, Kristen dll. yang hidup damai berdampingan. Masyarakat di pulau ini sangat relijius. Peribadatan di gereja bisa dilakukan setiap hari bergantian, ada khusus untuk anak-anak, remaja, maupun orang tua. Dentang suara lonceng gereja memanggil jemaat di sore hari terdengar pada waktu yang hampir bersamaan dengan suara azan Ashar. Memasuki lebih jauh ke dalam pulau akan dijumpai rumah-rumah sederhana penduduk etnis Cina berasitektur khas masa kolonial. Meskipun pulau ini padat penduduk tapi tidak tampak keriuhan, seperti suasana desa yang hening dan damai. Pun, pepohonan hijau cukup rapat menaungi sebagian rumah-rumah penduduk.

Gedung sekolah menengah atas yang asalnya adalah sebuah penjara

Beca kami melewati sebuah lapangan yang ramai oleh anak-anak bermain bola, menuju ke sebuah bangunan sekolah lanjutan atas, SMA Negeri 4 Pulau Doom, Sorong. Sekolah ini dahulunya adalah sebuah penjara. Jejak-jejak penjara masih terlihat seperti batangan-batangan logam yang menjadi pembatas antar ruang. Bangunan ini secara keseluruhan sudah tidak mengesankan sebagai bekas penjara. Sudah tampak seperti bangunan sekolah menengah atas seperti umumnya, dengan deretan ruang-ruang kelas dan halaman rumput di bagian tengah sekolah. Hanya pintu gerbangnya memang tampak berlapis.

Sebuah bunker Jepang (diberi label)

Sejarah Pulau Doom melintasi masa-masa kolonial Belanda, hingga masa Perang Dunia II dimasa pendudukan Jepang. Jepang juga pernah menginjakkan kakinya disini dan menjadikan Pulau Doom sebagai benteng pertahanan. Banyak bunker-bunker pertahanan Jepang semasa PD II yang masih dapat disaksikan. Diantara bunker tersebut ada yang terpelihara dan ada yang dibiarkan begitu saja. Ada yang terletak di area wisata, ada yang berada di pekarangan rumah penduduk, atau di halaman gereja. Sangat disayangkan, jika semua saksi-saksi sejarah dibiarkan saja terlantar, tidak dipelihara dan tanpa label apapun yang menandakan itu sebuah bukti sejarah. Selayaknya Pulau Doom beserta peninggalan sejarahnya dapat dipelihara dengan baik untuk wisata sejarah dan pendidikan. Dan perlu pemandu khusus yang terlatih agar para wisatawan ketika pulang dari sana mendapat souvenir berupa cerita sejarah. Semoga menjadi perhatian dan dikelola lebih baik, karena cukup banyak pengunjung yang sering mampir ke Pulau Doom.

Sebuah bunker Jepang yang berada di halaman rumah penduduk (tanpa label)

Becak mendaki sebuah bukit menuju ke sebuah bangunan gereja tua dengan halaman rumput yang luas. Pemandangan dari puncak bukit ini tampak indah. Sebagian wilayah pulau tampak dari sini dan memandang ke arah laut biru menyaksikan pemandangan di sekitar Pulau Doom. Dari sini becak kembali meluncur kebawah menyusuri jalan sempit di dekat pantai diantara padatnya rumah penduduk, hingga tiba di tepi pantai dimana kami bisa melihat Pulau yang lebih kecil Dofior dengan sebuah mercu suar berdiri diatasnya. Dari sisi pulau sebelah sisi pemandangan tampak indah. Perahu layar berwarna putih tampak menghiasi birunya laut. Sebuah pohon rindang menjadi peneduh di jalan ini sehingga nyaman untuk sekedar berhenti. Beberapa anak muda tampak duduk-duduk di atas pagar pembatas di tepi laut. Jika telah tiba di sini berarti kami sudah berada dekat ke tempat dimana kami memulai perjalanan. Begitu beca kembali dikayuh di jalanan yang sedikit mendaki tak lama kemudian kami telah tiba kembali ke dermaga. Perjalanan menjelajahi Pulau Doom yang bersejarah selesai sudah. (imt)

Sebuah bunker peninggalan jaman Jepang di halaman sebuah pastoran.
Pepohonan yang rimbun diantara padatnya rumah penduduk
Sisi Pulau Doom dengan pemandangan indah
Anak remaja Pulau Doom