Di Tepian Mentaya, Menyaksikan Aktifitas Pagi Sungai Kota Sampit di Bawah Hangat Cahaya Mentari

Suasana jalanan masih sepi. Kuayun langkah dalam cahaya remang pagi. Kuturuni undak-undak menuju dermaga sederhana. Disana aku berdiri memandang warna warni alam sekitar. Air sungai nan jernih kecoklatan akibat rendaman gambut mengalun tenang menghanyutkan. Seorang bapak berumur paruh baya duduk di ujung sampan yang tertambat di tepi dermaga kayu, di bawah tiang-tiang beton pondasi sebuah pusat perbelanjaan. Dihadapannya berjajar jajanan pasar aneka warna, sebuah termos berisi air panas dan beberapa gelas kosong serta kopi bubuk. Di hadapannya, di sebelah ujung perahu, dua orang pelanggan berjongkok sambil menikmati hangatnya seduhan kopi dan lezatnya kue. Di sisi lain dermaga seorang bapak sedang membilas buih-buih sabun di tubuh dengan air sungai.

Bagi sebagian penduduk Sampit hari belum dimulai. Dermaga kayu tempatku berdiri masih lengang. Hamparan awan biru mengambang di langit pagi. Seiring beranjaknya pagi, udara kian terasa hangat. Matahari merayap naik memberi kecerahan. Semburat  jingga bermunculan di horizon timur, warna biru perlahan memudar. Warna jingga awan terpantul dalam kilauan air sungai. Lengkungan berwarna jinga menyembul dari balik pemukiman  penduduk di seberang timur sungai. Satu demi satu suara berisik perahu kelotok dari desa seberang  sungai mulai terdengar mengiringi naiknya mentari bulat bundar. Lalu lintas penyeberangan mulai ramai. Sisi barat sungai yang menjadi pusat aktifitas masyarakat menjadi tujuan, mengantar para pegawai menuju tempat kerja, menyeberangkan anak-anak yang hendak pergi  sekolah. Dermaga kayu dipenuhi kelotok yang menurunkan penumpang dan siap kembali ke seberang mengantarkan penumpang, umumnya ibu-ibu rumah tangga yang pulang belanja sayur-mayur. Kehidupan pagi di sungai Mentaya dimulai.

Dalam remang pagi masyarakat Seranau menggunakan jasa kelotok untuk menyeberang ke sisi barat Sungai Mentaya

Sungai adalah urat nadinya Pulau Kalimantan, merupakan sarana penghubung antar wilayah yang berbeda. Sebagaimana sungai-sungai besar lainnya di Kalimantan, seperti Kapuas, Mahakam dll., Sungai Mentaya menjadi sarana transportasi utama bagi masyarakat di sekitar sungai, di Kabupaten Kotawaringin Timur. Melalui sungai, aneka barang seperti kayu dan barang tambang semisal batubara hingga manusia diangkut menggunakan kapal atau perahu, baik yang berukuran kecil maupun besar. Masih di dalam alur sungai dibangun sebuah pelabuhan, yaitu Pelabuhan Sampit. Adanya pelabuhan Sampit, yang letaknya tidak jauh dari pusat kota, dekat dari dermaga kayu tempatku berdiri, tentu sangat mendukung layanan transportasi antar wiilayah ini. Dari pelabuhan ini tersedia jasa pelayaran menuju Semarang atau Surabaya.

Sisi barat Sungai Mentaya, kapal besar dan kecil semua memanfaatkan alur sungai

Sungai Mentaya menghubungkan Kuala Pembuang (Kabupaten Seruyan), Kasongan (Kabupaten Katingan) dan Kota Palangkaraya. Berabad-abad lampau di daerah ini pernah berdiri sebuah kerajaan, yaitu Kerajaan Kotawaringin dan Sampit merupakan bandar terpenting pada masa itu. Sampit merupakan salah satu pemukiman tertua di bumi Kalimantan. Muaranya yang menuju ke Laut Jawa menjadikan sungai ini berperanan penting dalam perdagangan kala itu, bahkan hingga saat ini. Dari arah utara air Sungai Mentaya disuplai dari beberapa anak sungai yang lebih kecil. Ke arah selatan, menuju Teluk Sampit, Sungai Mentaya mengalir melintasi wilayah ini, memisahkannya atas bagian barat (Kota Sampit) dan Mentaya seberang (Kecamatan Seranau di bagian timur) yang masih sepi penduduk.

Warung apung, yang menawarkan jajanan pasar untuk kudapan pagi

Ternyata ada sejarahnya mengapa di bagian barat sungai yang berkembang lebih dahulu. Kota Sampit di sebelah barat Sungai Mentaya lebih berkembang, karena mengikut kepercayaan masyarakat Tionghoa, bahwa suatu kota harus dibangun menghadap matahari terbit. Sedangkan Seranau menghadap matahari terbenam, yang menurut perhitungan hongsui Tionghoa dianggap kurang baik. Karena itulah, mereka membangun pemukiman baru diseberang Seranau (Sampit sekarang) yang menghadap matahari terbit.

Keperluan rumah tangga hingga alat transportasi siap diangkut dengan kelotok

Mungkin bagi sebagian kita, apabila mendengar kata Sampit, akan memberi kesan menyeramkan. Yang terlintas dibenak adalah kerusuhan antar etnis Madura dan etnis Dayak pada tahun 2001 silam. Tapi saat ini semua itu telah usai. Kehidupan berjalan normal kembali,  damai berdampingan. Ketika di Sampit saya sempat diperlihatkan lokasi bekas kerusuhan. Waktu itu oleh sopir yang asli Dayak saya dibawa ke bekas sebuah pusat pertokoan. Bangunan dibiarkan terbemgkalai, tidak dirobohkan maupun dibangun kembali. Ketika mau ambil foto, saya diingatkan untuk tidak mendekat, cukup dari jauh saja. Kalau tidak kuat bisa sakit, begitu katanya.

Perkampungan sisi timur sungai, masih didominasi pepohonan lebat

Tak terasa matahari kian tinggi. Cuaca mulai terasa menyengat. Jajaran warung-warung di tepi sungai mulai menunjukkan aktifitas. Warna jingga mentari mulai menghilang menjadi putih terang. Mengasyikkan, memandang jingga mentari dari tepian sungai. Jika berkunjung ke Kota Sampit, sempatkan bermain di tepian Mentaya, di pagi hari nikmati keindahan matahari terbitnya. Di senja hari menyeberang ke Seranau dengan perahu dan nikmati matahari terbenam di atas Sampit. Kuberanjak meninggalkan tepian sungai. Tampak olehku, pak tua pemilik warung apung mendayung perahunya menjauhi dermaga kayu, mencari pelanggan lain. (imt)