Danau Maninjau Yang Rupawan, Riwayatmu Kini

Siapa yang tidak tahu dengan Danau Maninjau? Hampir semua orang yang pernah berkunjung ke Sumatera Barat dapat dipastikan pernah ke Danau Maninjau yang indah ini. Sejak puluhan tahun yang lalu, Danau Maninjau sudah menjadi tujuan wisata utama di Sumatera Barat. Aku sendiri lahir di pinggiran danau ini, menghabiskan beberapa tahun masa kanak-kanak di sini. Aku tahu persis dan bisa membedakan suasana tempo dulu dengan sekarang.

Tak terlalu banyak berubah sejak beberapa puluh tahun yang lalu, kecuali sekarang ini Danau Maninjau hanya indah jika dilihat dari kejauhan. Namun jika sampai di dekatnya, keindahan itu sirna. sudah sangat susah menemukan tempat untuk berenang. Dulu, aku dan teman-temanku bisa berenang di mana saja kami suka. Airnya begitu bersih, bahkan jika terminum sambil berenangpun terasa nyaman. Pinggiran danau, bahkan hingga agak ke tengahpun sudah dipenuhi oleh keramba ikan. Keramba ikan ini memang sudah tahunan di sana dan merajalela merenggut keindahan dan kenyamanan danau.

Ketika mampir dan bertemu dengan sahabat masa kecilku yang sekarang menjadi pengusaha wisata, dia mengeluhkan kondisi ini. Tidak pernah ada jalan keluar yang bisa membuat usaha wisatanya kembali seperti dahulu. Dia kalah dengan para pengusaha keramba ikan, yang kebanyakan bukan asli dari Maninjau. Pengusaha keramba ikan yang asli dari sinipun dimodali oleh perantau. Dengan merajalelanya keramba ikan ini, keseimbangan alam juga terganggu. Sudah begitu banyak ulasan mengenai kerusakan alam ini dan alam pun sudah memberi tanda dengan seringnya terjadi matinya berton-ton ikan di danau. Bisa dibayangkan betapa tercemarnya Danau Maninjau sekarang ini. Aku tidak lagi berani untuk berenang di danau yang indah ini, selain tempatnya juga sudah tidak ada, kondisi air danaunya juga menakutkan.

Beberapa ikan asli Danau Maninjau yang terkenal itupun sudah jarang ditemukan. Biasanya jika perantau pulang kampung, mereka membawa oleh-oleh Bada (mirip ikan bilih dari Danau Singkarak) atau Rinuak (ikan kecil-kecil). Kedua jenis ikan tersebut khas dari Danau Maninjau dan hanya ada di sana. Menurut publikasi, kelangkaan kedua jenis ikan tersebut adalah karena habitatnya terganggu dengan merajalelanya keramba. Selain dari seringnya ikan mati berton-ton, pakan keramba juga menyebabkan air danau tidak lagi bersahabat. Ada satu jenis lagi yang khas dari sini yang kini rasanya tidak lagi seperti dulu, pensi, sejenis kerang kecil. Dulu rasanya manis, sekarang menjadi hambar.

Aku mendambakan Danau Maninjau ini kembali seperti dahulu. Tapi mungkin ini tidak akan kesampaian, karena berbagai faktor. Keramba ikan juga memberi pemasukan kepada penduduk, namun memang tidak sesuai dengan kerusakan yang diakibatkan jika tidak ada kontrol dan pengaturan yang tegas. Entah berapa seringnya kepala daerah bolak-balik melintasi Danau Maninjau ini, karena memang jalan raya terletak di pinggir danau, namun hingga saat ini aku belum mendengar langkah kongkrit untuk mengatasi ini. Tidak terlihat upaya sungguh-sungguh untuk menanggulangi pencemaran yang sudah terjadi. Entah kapan Maninjau ini kembali indah.