Berpetualang ke Kalibiru, Mayalibit, Raja Ampat, Laksana Menemukan Harta Karun di Rimba Belantara

Kepulauan Raja Ampat merupakan surga bagi mereka yang senang beraktitas bawah air, seperti  berenang, snorkeling atau diving. Bagi yang tidak bisa berenang juga tetap bisa menikmatinya. Untuk snorkeling bisa dipandu, ada yang memegangi kita agar tetap stabil mengambang.

Pemandangan  gugusan pulau karang yang cantik, yang sering dijumpai pada brosur-brosur wisata  tentu menarik minat siapapun untuk berkunjung ke Raja Ampat.  Tanpa informasi yang  cukup tentang  Raja Ampat mungkin kita akan dibuat kecewa ketika kita sampai di Waisai dan tidak menemukan keindahan terumbu-terumbu karang tersebut.

Desa Warsambin di Teluk Mayalibit

Kabupaten bahari Raja Ampat itu sangat luas dan untuk melihat keindahan gugusan pulau-pulau karang tersebut kita masih harus berlayar lebih jauh dari kota Waisai di Pulau Waigeo. Tetapi apakah tidak ada tempat menarik untuk dikunjungi di Pulau Waigeo? Oh tentu ada, dan sangat melimpah.  Jika kita tidak menginap di resor tepi pantai, kita tinggal bicara saja ke sopir mobil carteran untuk dibawa melihat-lihat pantai dan ia akan siap menghantar dan membawa kita ke pantai-pantai indah tersebut.

Selain pantai, Pulau Waigeo menawarkan keindahan alam lain yang belum banyak diketahui wisatawan, jadi kalau sudah berada di Waisai jangan tergesa-gesa untuk melanjutkan perjalanan ke pulau lain. Diantara keindahan itu adalah Kalibiru. Nama Kalibiru baru kami dengar ketika menginjakkan kaki di pulau terbesar di Raja Ampat ini. Kalibiru ini terdapat di distrik (kecamatan) Teluk Mayalibit.

Dengan perahu dari Warsambin menuju Kalibiru

Teluk Mayalibit adalah sebuah teluk atau laguna yang besar di tengah pulau dan hampir membelah pulau menjadi dua. Jalan masuk menuju teluk ini adalah melalui sungai dengan tebing batugamping (kars) di salah satu sisinya yang bermuara di timur Waisai di selatan Pulau Waigeo. Teluk Mayalibit, dinamakan demikian karena Suku Maya adalah penduduk asli Pulau Waigeo. Ada beberapa perkampungan Suku Maya di Teluk Mayalibit dan masih sangat sederhana. Teluk Mayalibit mempunya bentang alam kars (pebukitan batugamping) yang unik.

Untuk menuju kesana bisa melalui laut dengan menggunakan speed boat dari Pelabuhan Waisai, atau jalan darat menuju ke Desa Warsambin di muara Teluk Mayalibit dan dilanjutkan dengan memakai speed boat. Kami memilih jalur darat karena lebih menghemat anggaran jalan-jalan kami. Dipagi yang basah oleh hujan dinihari itu kami menunggu sopir kendaraan kami datang. Kami sarapan pagi ditemani gerimis yang mulai reda. Pukul 8.00 pagi, selesai sarapan, kami semua siap, kendaraan pun sudah siap, dan kami bersiap berangkat.

Ruas jalan yang tertutup lumpur tebal akibat longsor

Kendaraan melaju mulus di jalanan beraspal hitam yang lengang. Lancar tanpa gangguan. Tapi, kendala itu datang di tiga perempat perjalanan. Kendaraan terpaksa berhenti, tidak bisa meneruskan perjalanan. Jalanan beraspal itu tertutup lumpur yang lumayan tebal, akibat hujan deras semalam. Alhasil kami kembali pulang ke hotel untuk mengganti kendaraan.

Kabar baiknya, pemilik hotel bersedia meminjamkan kendaraan  four wheel drive-nya, dan sopir kami bisa membawa kendaraan tersebut. Setelah bertukar kendaraan, kembali kendaraan kami melaju gagah di jalanan lengang. Kali ini lumpur tebal akibat longsor tidak lagi menjadi masalah.  Tidak masalah, kendaraan bila berlalu dengan baik, demikian juga ketika melewati jalan tanah yang becek.  Setelah satu jam meluncur dijalan raya, sampailah di Desa Warsambin, Teluk Mayalibit.

Melewati bagian sungai yang airnya kering, menuju Kalibiru

Pemandangan di depan mata tampak semua indah. Pegunungan batugamping tegak gagah, dengan pepohonan yang tinggi menjulang. Penduduk yang ramah, air sungai yang jernih dan udara yang sejuk, membuat betah berlama-lama di sana. Tapi kami belum sampai. Masih harus naik speedboat. Speedboat yang tersedia semua tanpa tudung karena itu ketika gerimis turun suasana hati agak ragu, takut basah.

Mama pemilik perahu meyakinkan,”Bahwa kalau sudah sampai disini harus pergi, nanti juga hujan akan reda. Cuaca seperti ini sudah biasa”, begitu katanya, sambil meminjam sebuah payung besar. Akhirnya kamipun  memantapkan diri berangkat di bawah rintik gerimis. Bertolak dari arah muara menuju hulu,  jadi kami melawan arus. Mendekati percabangan sungai ada pusaran arus. Speed boat berlayar memutar dan berbelok ke satu anak sungai. Di kiri kanan pemandangan indah. Payung pinjaman tidak terpakai, karena tangan sibuk memainkan kamera.

Malalui jalan setapak yang becek menembus hutan menuju Kalibiru

Tak lama kami berlayar, cukup 15 menit saja, perahu ditambatkan. Air sungai mendangkal. Perahu tak dapat lagi berlayar. Kami lalu turun dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki melewati sungai, melawan arus. Pace Alfredo pemandu kami yang tidak banyak bicara sudah berjalan di depan. Kami mengikutinya dengan susah payah agar tidak terbawa arus dan menahan dinginnya air. Benar saja, cuaca semakin cerah, rintik hujan mulai berhenti. Saat itu, gerimis atau tidak tentu sudah bukan masalah lagi, karena pakaian kami sudah basah sepaha. Tinggal bagaimana mengamankan kamera agar tidak masuk ke air sungai.

Sumber mata air Kalibiru

Selepas sungai perjalanan berlanjut menyusuri jalan setapak yang becek di bawah rimbun pepohonan, masuk ke kedalaman hutan. Berjalan diantara akar-akar pohon sambil mencari-cari pijakan tanah yang keras. Trekking di dalam udara lembab membuat pengap. Begitu Kalibiru tampak di hadapan, terbayar sudah jerih payah. Kami betul-betul terpana, diam tak berkata. Jernih airnya hingga menampakkan dasarnya.  Luarbiasa. saya merasa entah berada dimana. Di suatu rimba raya yang rasanya pernah dikenal tapi entah dimana. Seperti menemukan kristal harta karun yang tersembunyi di rimba belantara. (imt)