Berkunjung ke Waisai, Tempat Menikmati Keheningan di Tepian Lautnya yang Indah

Cuaca selepas tengah hari begitu panas menyengat. Terik mentari  memancar langsung ke bumi tanpa ada yang menghalangi, tak ada pepohonan. Panasnya membuat kepala berdenyut bagi yang tidak biasa. Waktu keberangkatan kapal ferry masih cukup lama.  Setelah bolak-balik melihat laut dari geladak kapal, aku duduk tenang di kursi memperhatikan kesibukan di pelabuhan, sambil menunggu jadwal keberangkatan. Kugeser jendela kaca yang buram terkena debu untuk mendapat sekadar  udara segar  yang terasa hangat dan agar pandanganku bisa lepas keluar. Dalam diam kupandangi  lautan luas, kupandangi  kapal-kapal  penumpang yang bersandar di tepi dermaga, kupandangi  kapal-kapal yang melepas  jangkar di tengah laut, kupandangi angkot dan kendaraan carteran  yang menurunkan calon penumpang dengan segala macam barang bawaannya, kupandangai  lalu lalang manusia. Melihat sosok-sosok berkulit gelap berambut keriting lalu lalang di bawah terik mentari aku membayangkan sedang berada di  belahan dunia lain, di sebuah tempat di Afrika. Tapi tidak, aku berada di timur Indonesia, di Pelabuhan Rakyat Kota Sorong, Papua. Itulah sedikit gambaran Indonesia yang bhinneka tunggal ika.

Pemandangan sebuah resort tepi laut di Waisai

Dari pelabuhan ini kapal ferry yang kami tumpangi akan membawa kami ke Kota Waisai, ibukota Raja Ampat. Raja Ampat, sebuah kabupaten bahari yang sangat luas dan terdiri dari ratusan pulau dengan pemandangan alam permukaan serta bawah laut yang sangat indah. Sebuah destinasi wisata yang sudah terkenal ke mancanegara dan menjadi favorit wisatawan asing, terutama untuk kegiatan snorkening dan diving. Lautnya yang biru jernih memungkinkan untuk melihat ikan-ikan yang cantik berwarna-warni berenang di bawahnya, tanpa harus menyelam. Pantai-pantai yang sebagian besar masih alami tersembunyi di balik pepohonan yang tinggi dalam kelebatan hutan rimba.

Pantai yang bersih dan tenang

Satu demi satu penumpang berdatangan, beberapa diantaranya wisatawan berkulit putih. Setelah sementara waktu menunggu, ferrypun mulai bergerak. Ferry kami berangkat 15 menit lebih lambat dari jadwal. Setelah menarik jangkar, kapal bergeeser perlahan menjauhi pelabuhan, semakin lama semakin cepat dan melaju stabil di kecepatan 40km/jam. Kapal melaju menyibak laut luas membiru, berlayar diantara kapal-kapal lain yang tampak terapung di lautan, meninggalkan buih-buih putih di kiri kanannya. Semakin lama semakin menjauh dari pelabuhan menuju ke tengah laut, meninggalkan pulau-pulau kecil di belakang, meninggalkan kapal-kapal yang melepas jangkar. Kapal kami sendirian di lautan. Kuberingsut menuju geladak. Di geladak, kurasakan terpaan angin laut yang kencang, yang membuatku memegang erat topiku yang siap terbang. Setelah dua jam berlayar, tibalah kami di Pelabuhan Waisai, Kota Waisai, di Pulau Waigeo.

Pohon nyiur berjajar menghiasi tepian pantai yang asri

Oh, tampaknya ada tamu istimewa yang berlayar bersama kami di dalam ferry,  karena di luar telah ada sekelompok muda mudi berpakaian adat yang siap menyambut dengan tarian. Lumayanlah, bisa lihat atraksi khas Papua sejenak. Seiring rentak bunyi-bunyian dari alat musik perkusi mungkin tifa, dan gitar yang dimainkan oleh beberapa pemuda, beberapa penari mulai menari lincah. Mereka menggerakkan kaki dan tangan seiring bunyi musik. Gerakannya mudah diikuti, mengangkat kaki bergantian kanan dan kiri, dengan ayunan tangan bersesuaian. Tubuh merendah, merunduk dan kembali tegak. Kostum yang dikenakan  bernuansa khas Papua, baju kulit kayu dan hiasan kepala. Penumpang kapal yang sebagiannya adalah wisatawan turut mengabadikan atraksi itu.

Tempat yang nyaman untuk bersantai dan menenangkan diri

Para tamu istimewa berdiri di hadapan para penari. Di depan mereka diletakkan tiga buah piring keramik besar yang siap untuk diinjak. Para tamu istimewa yang disambut melangkah dan meletakkan kaki kanannya di atas piring-piring tersebut dan melangkah  ke depan sambil bergandengan tangan. Seorang gadis penari mengalungkan rangkaian kulit kerang ke seorang tamu, disusul oleh dua penari lainnya ke tamu yang lainnya. Setelah itu mereka berjalan sambil mengapit para tamu. Upacara penyambutan hanya berlangsung beberapa menit saja. Entahlah, aku belum tahu apa nama tarian penyambutan itu. Kutanyakan kepada sopir mobil yang menjemput kami iapun tak tahu. Aku menyebutnya tarian injak piring.

Tarian adat untuk menyambut tamu istimewa

Kota Waisai cukup ramai, sebagian besar adalah kaum pendatang, pendudk asli Papua justru jarang dijumpai di kota. Hotel-hotel murah banyak dijumpai di sini, kamar mudah diperoleh tanpa harus pesan terlebih dahulu. Untuk tarif  hotel permalam dihitung perkamar, tetapi untuk tarif resort atau homestay dihitung perkepala untuk permalamnya termasuk makan, karena umumnya resort terletak jauh dari kota. Kamar resort atau homestay bisa diisi dua hingga tiga orang. Resort atau homestay dapat dijumpai di sepanjang pantai Kota Waisai. Bangunan resort terbuat dari kayu dengan atap rumbia dan toilet bersama yang terletak di daratan pantai terpisah jauh dari kamar. Pantai umumnya masih alami, asri dinaungi pepohonan tinggi di dalam hutan yang lebat. Kalau malam hari terasa sekali suasana hening senyap dan temaram dari cahanya beberapa lampu saja. Suara hewan-hewan seperti jangkrik adalah suatu hal yang lumrah. Di siang hari perairan di sekitar resort dapat dipakai untuk berenang, atau snorkeling, berenang diantara ikan-ikan cantik aneka warna.

Ikan-ikan berwarna warni tampak terlihat berenang dijernihnya air

Beberapa resort menyediakan anjungan yang terbuka untuk umum, sehingga kita dapat singgah disana untuk sekedar menikmati keindahan laut yang masih alami dan menikmati keindahan matahari terbit ataupun tenggelam. Kita dapat menginap di hotel di kota yang harganya relatif murah dan menyewa mobil untuk melihat-lihat laut di perairan resort yang kita inginkan karena angkutan umum belum tersedia. Di kota juga tersedia tempat persewaan alat-alat snorkeling. Yang menyenangkan, menikmati pantai di Waisai tidak ramai pengunjung jadi kita merasa nyaman seperti di pantai pribadi. Kami betah berlama-lama duduk di anjungan dibelai hangatnya semilir angin laut dan segarnya oksigen dari dedaunan yang rimbun. Pandangan bebas ke laut lepas. Sambil menikmati segelas teh atau kopi hangat. Di senja hari, anjungan sedikit lebih ramai oleh pengunjung yang ingin menyaksikan indahnya langit senja menjelang malam.

Menikmati senja berganti malam

Kita juga bisa melihat burung Cendrawasih di sebuah hutan, tetapi harus dipandu pawangnya. Karena keterbatasan waktu, kami belum sempat untuk melihat burung emas tersebut. Selain kota Waisai dengan pantai-pantai indahnya, spot-spot snorkeling dan divingnya, masih banyak lokasi lain menunggu untuk di eksplorasi di Pulau Waigeo maupun di pulau-pulau lain di Kepulauan Raja Ampat. Dari Waisai kita dapat melanjutkan perjalanan ke lokasi-lokasi wisata lainnya, seperti yang sering kita lihat foto-fotonya di brosur-brosur wisata di Kepulauan Raja Ampat, dengan menggunakan kapal. Banyak pilihan paket wisata yang ditawarkan. (imt)