Berkunjung ke Lasem, Tiongkok Kecil yang Sempat Terlupakan dan Mulai Ditinggalkan Penghuninya

Terletak cukup jauh dari kota besar membuat Lasem sempat terlupakan dan mulai ditinggalkan oleh kaum mudanya, sebagian dari mereka mencari pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik di kota lain seperti di Semarang. Padahal daerah ini memiliki sejarah yang menarik dan memiliki sekumpulan pengrajin batik yang karyanya membuat pecinta batik seperti saya ketar ketir memegang dompet. Beruntung ada komunitas pecinta sejarah yang kerap mempromosikan Lasem. Kota ini pun mulai dikunjungi oleh pecinta sejarah,batik serta wisatawan dari berbagai daerah.

Saat itu saya ditemani oleh seorang pemandu asal Rembang yang hapal seluk beluk Lasem, bahkan ia pun mengenal para penghuninya. Kami diajak ke rumah opa oma. Aslinya mereka ini adalah saudara sepupu yang tinggal di jalan Karangturi. Berhenti di depan pagar kayu yang khas, opa sedang asyik duduk di depannya, suatu kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap hari. Opa sudah terbiasa dengan tamu-tamu yang datang berkunjung untuk melihat-lihat rumahnya atau sekedar mengobrol. Rumah ini dirawat oleh mbak Menuk, beliau sekaligus membantu opa oma sehari-hari. Mbak Menuk pun dengan sigap membawa kami melihat-lihat dan menjelaskan isi rumah, ada tempat tidur bertiang, altar doa, dapur sampai ke halaman belakang di mana terdapat sumur. Jika sempat mengunjungi Lasem, datanglah ke rumah opa oma ini dan mengobrol barang beberapa menit dengan mereka.

Puas bermain di rumah tersebut, kami pun diajak ke rumah pengrajin batik tulis. Ada 2 rumah yang kami kunjungin yaitu rumah Henry, anak almarhum pemilik batik Padie Boloe. Dia melanjutkan usaha ayahnya. Tadinya dia bekerja di luar Lasem tapi memutuskan untuk kembali ke Lasem dan melanjutkan usaha ayahnya bahkan membuat merek dagang kreasinya sendiri yaitu “Rajawali”. Saat kami berkunjung, dia mengeluarkan beberapa potong batik buatan almarhum ayah dan ibunya. Sangat cantik! Saya pun bercerita mengenai usaha tas yang saya jalankan, sambil mengeluhkan kalau saat itu saya sempat salah memilih model tas. “ Model gagal” kata saya pada Henry. Lalu dia bilang bahwa tidak ada produk gagal, yang ada adalah tas, kain atau produk yang kita buat itu belum bertemu jodohnya. Puas mengobrol dengan keluarga itu dan membeli beberapa potong kain, saya pun meninggalkan rumahnya dengan hati riang, seperti diberi suntikan semangat baru.

Rumah Om Sigit Witjaksono, Sang Maestro Batik Sekar Kencana

Tidak jauh dari rumah Henry,saya dibawa ke rumah om Sigit Witjaksono. Rumahnya berarsitektur Cina lawas, dihiasi dengan pigura foto kenangan keluarga om Sigit. Beliau menerima kami dengan tangan terbuka, seru bercerita tentang pengalaman hidup dan keluarganya. Batik Sekar Kencana,memiliki ciri khas sendiri yaitu ada sentuhan aksara Han, berisi pepatah Cina. Oh iya, Om Sigit ini juga sempat bermain dalam film “Ca Bau Kan” loh.

Batik Lasem ini sangat khas selain motifnya yang unik, konon warna merah darah ayam pada batik ini hanya bisa ditemukan di Lasem karena dipengaruhi oleh air tanah di Lasem yang mengandung mineral tertentu.

Puas menikmati batik, saya dibawa ke tambak garam. Sempat berhenti sebentar, melihat-lihat para pekerja di sana. Agak sedih melihatnya, saat itu matahari sangat terik ditambah udara cukup lembab, saya membayangnya beratnya tugas para petani garam tersebut.

Ornamen di Klenteng

Aroma hio merebak begitu saya memasuki klenteng Gie Yong Bio. Yang unik di tempat itu adalah adanya altar dengan patung pria berbusana Jawa. Patung tersebut adalah Raden Pandji Margono, salah satu dari tiga tokoh pahlawan di Lasem. Ia gugur dalam perang Kuning, perang melawan VOC di tahun 1740. Klenteng ini dibangun untuk menghormati ketiga pahlawan itu. Masih ada lagi 2 klenteng yang wajib dikunjungi yaitu Klenteng Po An Bio yang merupakan klenteng kedua tertua di Lasem dan Klenteng Cu An Kiong, klenteng tertua di Lasem yang letaknya tidak jauh terletak dari sungai Lasem.

Raden Pandji Margono di Klenteng Gie Yong Bio

Jangan lewatkan Lawang Ombo, salah satu bekas gudang candu. Konon kita bisa menginap di sini dengan seijin pemilik atau penjaganya. Berani uji nyali? Di halaman belakang terdapat makam kuno dan sebuah jangkar peninggalan Laksamana Cheng Ho. Untuk mengunjungi Lawang Ombo dibutuhkan ijin dari penjaganya  karena memang tempat ini tidak dibuka untuk umum tapi sering digunakan untuk penelitian atau acara-acara bersama dengan masyarakat sekitar.

Belum afdol rasanya kalau mengunjungi Lasem tapi tidak mencoba lontong Tuyuhan kuliner khas Lasem. Sejenis opor ayam berkuah kuning dengan aroma rempah disajikan dengan irisan besar lontong. Puas menikmati lontong Tuyuhan, mampirlah ke warung kopi. Jika anda pecinta kopi, pesanlah secangkir kopi melelet pada sebatang rokok. Sambil menikmati kopi dan menuangkan ampasnya di tatakan kopi, ampas itu kemudian digunakan sebagai cat untuk melukis di rokok dengan menggunakan tusuk gigi. Rokok hasil leletan rasanya berbeda, ada aroma kopinya. Kebiasaan ngopi di Lasem tidak mengenal waktu. Biasa masyarakat melepas penat dengan datang ke warung kopi, berkumpul dan mengobrol. Bisa pagi, sore atau malam. Ngelelet ini lahir dari kebiasaan nongkrong di warung kopi.

Petani Garam

Untuk berkunjung ke Lasem bisa menggunakan kereta api, atau pesawat sampai ke Semarang lalu melanjutkan bis ke Lasem. Jika tahan, ada bis langsung dari Jakarta atau Surabaya langsung menuju ke Lasem. Yang sangat berkesan selama berkunjung ke Lasem adalah masyarakatnya yang ramah dan terbuka. Saat berjalan pulang, saya masih penasaran mau berjalan-jalan di sekitar Karangturi, ingin menikmati kota sekali lagi. Ketika berjalan dan berpapasan dengan seorang ibu yang sedang menyapu di depan rumahnya, kami pun mengobrol sebentar, si ibu pun menawarkan kami untuk mampir ke rumahnya, satu hal yang mulai langka sekarang ini di kota besar.