Berjalan Kaki 790 km Menuju Santiago de Compostela, Tempat Ziarah Umat Katolik di Spanyol

Tradisi peziarahan Camino de Santiago berawal dari penemuan makam Santo Yakobus, salah satu dari dua belas rasul Yesus Kristus, sekitar tahun 813 di Santiago de Compostela, Spanyol dan menjadi salah satu tujuan peziarahan yang terpenting bagi umat Katolik setelah Roma dan Yerusalem. Berbagai fasilitas penunjang dibangun di sepanjang jalur peziarahan menuju Santiago de Compostela di  mana sang Santo dimakamkan. Ada banyak rute yang ujungnya berakhir di Santiago de Compostela, seperti rute Portugal (dimulai dari Lisbon atau Porto), rute Via de La Plata (dimulai dari Sevilla, sekitar 1000-an km), Primitovo, Sarria, dan lainnya.

Saya mengetahui peziarahan ini dari seorang traveler asal Belanda yang pernah menjalaninya beberapa tahun lalu. Didorong oleh rasa ingin tahu apakah saya sanggup jalan kaki sekitar 790 km selama kurang lebih 1 bulan, Camino de Santiago pun menjadi mimpi saya. Terutama setelah menonton film “The Way” yang bercerita tentang seorang ayah yang menjalani peziarahan ini, saya membayangkan muka-muka bersahabat dari para peziarah yang akan saya temui di sepanjang perjalanan menuju Santiago de Compostela. Siapa pun boleh menjalani rute ini, menginap di penginapan yang disediakan, bukan hanya untuk umat Katolik. Pada saat saya jalan saya bertemu dengan teman dari berbagai negara dengan kepercayaannya masing-masing. Sebagian besar teman berjalan dengan alasan ingin berkontemplasi, bukan untuk tujuan religius.

Katedral Santiago de Compostela

Titik awal perjalanan saya dimulai di Saint Jean Pied de Port, desa kecil di perbatasan Prancis dan Spanyol. Setelah meninggalkan Saint Jean Pied de Port, saya tidak memesan penginapan karena saya tidak membuat rencana rinci di mana akan berhenti dari hari pertama sampai hari terakhir. Saya biasanya berjalan sampai badan berasa lelah atau saya menyukai tempat tersebut. Setiap harinya saya berjalan sekitar 25-35 km, dimulai dari jam 8 pagi dan berhenti jam 2 siang. Untuk pemilihan penginapan, terdapat penginapan municipal yang dikelola oleh pemerintah dan penginapan pribadi (private albergue). Penginapan pribadi biasa hanya memiliki sekitar 20 tempat tidur, sedangkan penginapan municipal  memiliki 200-500 tempat tidur. Bagi yang tidak suka keramaian, private albergue bisa menjadi pilihan. Tarifnya pun terjangkau sekitar 5-20 euro bahkan ada yang donasi atau bayar serelanya. Mengapa murah? Penginapan ini disediakan khusus untuk peziarah dan untuk menginap di sini kita harus menunjukkan pilgrim passport sebagai bukti kalau kita menjalani peziarahan ini. Pilgrim passport  bisa diperoleh di tempat kita memulai perjalanan. Dan setiap kita berhenti untuk menginap, pilgrim passport  itu akan dicap oleh petugas penginapan dan nantinya cap-cap tersebut digunakan untuk bukti kalau kita menjalani rute ini dan bisa mendapatkan sertifikat. Untuk mendapatkan sertifikat diharuskan berjalan kaki minimal 100 km menuju Santiago de Compostela.

Dormitory di San Juan de Ortega

Saya membaca di salah satu forum Camino de Santiago bahwa camino akan memberikan hal yang kita butuhkan. Sejak hari pertama lutut saya sakit dan semakin menjadi-jadi karena saya tidak mau “libur” sehari untuk mengistirahatkan kedua lutut saya. Seorang teman kemudian bercerita ketika kami sudah menyelesaikan peziarahan bahwa dia dan kelompoknya mengira bahwa saya tidak akan sampai di Santiago de Compostela karena mereka melihat saya berjalan kesakitan setiap hari selama hampir 2 minggu. Di hari keempat ketika akan meninggalkan Pamplona, seseorang memanggil saya dari seberang jalan. Dia kemudian mendekati saya dan bertanya apakah ada masalah dengan lutut saya. Saya menjelaskan bahwa lutut saya sakit sejak hari pertama. Bapak tersebut adalah seorang dokter ortopedi dan menawarkan untuk merawat lutut saya asalkan saya mau tinggal sehari lagi di Pamplona. Karena saya tidak mau berpisah dengan teman lain maka saya pun menolak tawaran beliau. Beliau kemudian menyuruh saya untuk tengkurap di sebuah bangku taman dan  menekuk lutut saya. Sakitnya bukan main. Seorang Bapak yang sedang jalan pagi pun berhenti dan bertanya apakah saya harus dibawa ke rumah sakit karena saya terlihat sangat kesakitan. Sakit lutut saya memang tidak langsung hilang karena saya memaksakan untuk terus berjalan tapi petunjuk  bagaimana saya harus melakukan latihan untuk lutut dari dokter ortopedi tersebut cukup ampuh. Saya bertemu dengan sekelompok orang Korea, setiap kali bertemu mereka selalu bertanya bagaimana keadaan lutut saya, apakah ada kemajuan.  Suatu hari, dari kejauhan mereka bersorak menyemangati saya untuk terus berjalan.

Kegiatan Setelah Makan Malam

Peziarahan Camino de Santiago bisa dilakukan seorang diri, berkelompok dengan teman atau dengan keluarga. Saya memilih untuk berangkat dari Indonesia seorang diri supaya saya bisa bertemu banyak orang karena jika saya pergi berdua dengan teman dari Indonesia, saya pasti akan merasa nyaman dan malas untuk bergaul atau menambah teman. Selain itu tidak mudah mendapatkan teman seperjalanan yang mempunyai jadwal yang sama dan mau berjalan selama sebulan penuh mengingat terbatasnya cuti. Peziarah yang saya temui ada yang berjalan seorang diri dan ada yang berkelompok, ada yang berpasangan dengan keluarganya. Di Sepanjang rute banyak sekali papan atau tanda petunjuk jalan, terutama panah-panah kuning sebagai petunjuk rute Camino de Santiago ini, jadi jangan takut nyasar ya. Kalau pun kita nyasar, biasanya penduduk lokal akan memberi tahu kita. Di beberapa titik saya sempat berjalan sendiri. Bayangan-bayangan akan pencopetan atau penculikan muncul di benak saya karena saya sempat melewati hutan seorang diri. Tapi di luar itu sangat mudah untuk mencari teman perjalanan di rute ini dan biasanya dari beberapa pengalaman, beberapa teman pun menjadi sahabat.

Panah Kuning Penunjuk Jalan

Hal mengisi perut tidak menjadi masalah karena banyak d bar dan restoran walaupun saya merasa saat mendekati Santiago de Compostela saya agak kesulitan menemukan bar atau restoran. Untuk makan pagi saya terbiasa makan di albergue jika  mereka menyediakan makan pagi atau saya akan berjalan sekitar 2 atau 3 jam dan berhenti di bar untuk menikmati secangkir kopi dan roti atau tortilla de patatas. Sedangkan untuk makan siang saya memilih untuk membeli buah di supermarket. Hampir di semua penginapan tersedia dapur untuk memasak makan malam. Akan lebih murah jika bisa patungan untuk memasak.

Spanyol salah satu negara penghasil wine. Saya sempat melewati perkebunan anggur dan tidak jauh dari situ ada fountain yang terkenal karena yang mengalir bukan air tapi wine. Wine fountain tersebut disediakan oleh winery Bodegas Irache. Di sana tersedia 2 keran, keran khusus red wine dan untuk air. Saya sampai di Bodegas Irache sekitar jam 9 pagi jadi wine yang mengalir dari keran masih banyak. Walaupun gratis, tidak ada yang mengisi botolnya dengan wine karena hari masih pagi, tidak ada  yang mau mengambil resiko pusing saat berjalan. Tidak jauh dari wine fountain ini ada tulisan : “ Pilgrim, If you want to arrive in Santiago with strength and vitality, then take a drink of this great wine and make a toast to happiness

Free Flow Wine di Bodegas Irache

Begitu memasuki Santiago de Compostela setelah sekitar 30 hari-an berjalan kaki, saya tidak bisa berhenti tersenyum. Saya yang beberapa hari sebelumnya hampir putus asa dan mau menghentikan peziarahan ini akhirnya bisa sampai juga dan yang terpenting bagi saya saat itu adalah saya berjalan dengan 2 orang sahabat baik. Saya tersenyum sangat lebar dan ingin jingkrak jingkrak rasanya begitu melihat atap katedral Santiago de Compostela dari kejauhan. Sahabat saya, Marcus, yang sebelumnya pernah mengunjungi Santiago de Compostela cukup maklum dengan tingkah norak saya. Ritual yang dilakukan oleh peziarah adalah berjalan menuju katedral, meletakkan tangan di salah satu pilar batu yang berukirkan relief mengenai sejarah penyelamatan dari perjanjian lama hingga perjanjian baru. Tapi ritual tersebut tidak boleh dilakukan lagi karena merusak pilar. Setelah itu, peziarah menuju ke altar utama. Di atas altar terdapat patung Santo Yakobus. Peziarah akan memeluk patung tersebut sambil mengucapkan doa dan syukur. Di bagian bawah altar terdapat makam sang Santo. Kemudian peziarah akan menuju ke kantor resmi pelayanan bagi peziarah untuk mendapatkan sertifikat peziarahan.

La Cruz de Ferro, peziarah meninggalkan batu sebagai simbol meninggalkan beban dan memulai hidup baru

Puncaknya, setiap hari pada pukul 12 siang akan diadakan misa peziarah. Di misa ini kami bersama-sama merayakan dan bersyukur karena telah sampai di Santiago de Compostela. Yang selalu ditunggu-tunggu dalam misa di katedral ini adalah ritual botafumeiro, di mana tempat kemenyan raksasa seberat 80 kg diayunkan. Berada di Santiago de Compostela dengan teman-teman seperjalanan yang saya temui sejak hari pertama membuat saya seperti berada di rumah. Bagaimana tidak, setiap berjalan beberapa meter, saya akan bertemu dengan teman, kami akan saling menyapa, berpelukan dan memberi selamat. Atau jika saya sedang asyik berjalan sambil melihat-lihat toko, dari kejauhan ada yang memanggil nama saya. Saya selalu mengatakan ke beberapa teman bahwa Santiago de Compostela tidak akan sama lagi tanpa mereka.